Dalam dunia ecommerce, setiap startup membuat inovasi baru pasti akan selalu berbenturan dengan pemain bisnis yang telah mapan. Ini terjadi memang pasti akan selalu terjadi karena inovasi dari para startup adalah memang merupakan jawaban dari kelemahan atau tuntutan-tuntutan baru yang tidak dapat dipenuhi oleh pemain-pemain yang telah lama menikmati safety zone (zona nyaman). Apalagi jika inovasi dari para startup tersebut memiliki pola bisnis 'Sharing Economy', yang mampu memangkas masalah permodalan dan mendahului regulasi yang belum ada.

(Baca juga : Mengenal Sharing Economy)

Salah satu inovasi dari startup yang menimbulkan kontroversi adalah AirBnB. AirBnB merupakan layanan online yang menyediakan jasa sewa rumah atau apartemen yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Pionir market place jasa sewa rumah atau apartemen asal Amerika Serikat ini didirikan oleh Joe Gebbia, Brian Chesky dan Nathan Blecharczyk.

Model bisnis 'Sharing Economy'ala Go-Jek ini menawarkan diri untuk menjadi perantara bagi para pemilik hunian yang ingin menyewakan kamar, rumah, apartemen dan sebagainya dalam jangka waktu tertentu. Berbeda dengan Traveloka, Agoda dan sebaginya yang bekerjasama dengan Hotel profesional.

Pemilik rumah atau apartemen yang ingin bekerjasama, cukup mendaftar menjadi anggota AirBnB. Setelah disetujui, mereka berhak menentukkan harga sewanya, dengan pembagian keuntungan 97% untuk pemilik rumah atau apartemen.

Bisnis ini disambut hangat di Indonesia, terutama bagi para pemain investasi properti. Mereka yang selama ini mendapat keuntungan cuma dari selisih peningkatan nilai harga properti saat dijual, kini asset mereka bisa menjadi mesin uang sebelum dijual.

 

Mich Goh, Head of Public Policy, Southeast Asia at Airbnb, mengatakan, "Dalam setahun terakhir, tuan rumah di Indonesia pada umumnya memperoleh Rp28,4 juta dengan total pendapatan seluruh tuan rumah sebesar Rp1,15 triliun (US$84,6 juta)."

Menurut AirBnB, di Indonesia mereka telah mendapatkan 881 ribu tamu, mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun sebesar 72%, dengan tamu yang kebanyakan berasal dari Jakarta, Singapura, London, Melbourne, Sydney, dan Kuala Lumpur.

 

Pelaku Bisnis Hotel di Indonesia Mulai Terancam Oleh AirBnB


Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sekaligus Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan bahwa kehadiran AirBnB telah menggerogoti bisnis hotel di Tanah Air, karena AirBnB memiliki keunggulan yang sulit dilawan oleh hotel, yaitu faktor harga.

Hariyadi juga berpendapat bahwa seharusnya pemerintah melarang keberadaan AirBnB. Kalau ingin menjalankan bisnis di Indonesia, mereka harus mengikuti ketentuan yang ada di Indonesia, seperti membayar pajak dan membuka kantor perwakilan di Indonesia.

 

Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Apindo

 

Sementara dari pihak Airbnb menyatakan bahwa mereka bersedia mengikuti aturan main yang nanti diterapkan pemerintah Indonesia. Mich Goh menegaskan, "Kami sangat berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dalam membentuk peraturan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan yang memungkinkan konsep home sharing untuk berkembang dengan cepat dan terus memberikan keuntungan bagi Indonesia."

Menurut pengakuan Mich Goh, Airbnb sejak tahun 2014 selalu memenuhi kewajiban pajak ke lebih dari 340 komunitas di seluruh dunia dan para tamu telah membayar 510 juta dolar AS untuk pajak perjalanan dan wisata mereka. Mich Goh justru berharap pemegang otoritas di Indonesia dapat berkordinasi untuk mengatur mekanisme penerimaan pajak tersebut. Hanya saja di Indonesia sampai saat ini belum ada kebijakan dari pemerintah yang khusus mengatur masalah ini, menurut Mich Goh.

Airbnb mendorong peningkatan jumlah masyarakat untuk berwisata dan berbelanja di lingkungan lokal sekitarnya, yang berarti bahwa sebagian besar uang yang dihasilkan oleh platform Airbnb tetap berada di masyarakat setempat," Jelas Mich Goh saat berusaha meyakinkan bahwa keuntungan yang didapat tidak lari ke luar negeri.

Mich Goh, Head of Public Policy, Southeast Asia at Airbnb

 

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani kemudian menyikapi pernyataan tersebut dengan mempertanyakan sikap pemerintah yang belum menindak lanjuti permasalah ini, "Bukannya saya tidak setuju ya, tetapi kepentingan nasional kita di mana nih? Menciptakan persaingan yang adil tidak?".

Ia juga mengatakan bahwa yang paling diuntungkan adalah kelas menengah ke atas. "Di transportasi, bicara orang cari nafkah. Shifting dari orang yang enggak punya kerjaan, ada suatu alasan sosial yang bisa diterima. Kalau bicara akomodasi, ini sesuatu yang beda. Kelas menengah ke atas, bagi mereka additional income."

Hariyadi menambahkan, baiknya pemerintah membuat regulasi agar model bisnis tersebut bisa bermain di tataran yang sama dengan jenis kegiatan serupa, yakni perhotelan. Airbnb selama ini beroperasi tanpa harus membayar pajak dan membagi komisi dengan travel agent. Sementara pelaku usaha bisnis perhotelan harus membayar pajak badan serta komisi untuk travel agent dari 15 sampai 30 persen.

Sementara Michael Henssler, Managing Director Key International Hotels Management Co Ltd dan President Kempinski SA China memiliki pendapat yang berbeda. Dia merasa tidak terlalu terganggu oleh keberadaan Airbnb, "hotel mewah mengutamakan customer experience, yakni menjual keunikan dan pengalaman pengguna hotel dengan layanan yang sangat baik, pemberi sewa di Airbnb tidak akan mengingat Anda Atau memberikan layanan yang baik ke Anda, bukan?" Menurutnya yang akan kegerus oleh disrupsi aplikasi penyewaan tempat tinggal Airbnb hanyalah hotel kelas menengah.

 

Aturan Main Yang Adil Bagi Semua

Perseteruan antara pembuat inovasi baru dalam dunia startup dengan pelaku bisnis yang telah mapan telah banyak terjadi. Ujung-ujungnya adalah dibutuhkan regulasi atau kebijakan pemerintah yang cepat dan adil bagi semua pihak.

Indonesia sebagai bagian dari warga dunia tentunya tidak boleh menjadi kerdil karena menutup diri atas pesatnya perkembangan dan kemajuan teknologi yang terjadi di dunia. Tetapi Indonesia, dalan hal ini adalah pemerintah melalui kebijakannya, juga sangat diharapkan untuk dapat melindungi pelaku bisnis nasional agar tidak punah sekaligus mendorong mereka, baik pelaku bisnis yang telah mapan maupun yang sedang merintis untuk mampu menjawab tantangan persaingan global.

(Baca Juga : Gurita E-Commerce, Monopoli atau Inovasi?)

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia
 


Podcast - Mengenal Jenis E Commerce

 

Top 10 Trending
Website

APRIL 2019

   
    IDN Rank
1 Tribunnews 2
2 Detik 4
3 Okezone 5
4 Tokopedia 6
5 Bukalapak 7
6 Sindonews 8
7 Kompas 9
8 Liputan6 11
9 Grid 13
10 Kumparan 15

 Sumber data Alexa

 

 

Top 10 Trending
Youtube Channel 

APRIL 2019

 

    Subscriber
1 Atta Halilintar 13,712,408
2 Ria Ricis 12,200,969
3 Calon Sarjana 8,688,391
4 GEN HALILINTAR 8,265,980
5 Rans Entertaiment 6,552,572
6 RadityaDika 6,524,959
7 Indosiar 6,334,429
8 The Shiny Peanut 6,104,781
9 TRANS7 OFFICIAL 5,741,184
10 YtCrash 5,659,114

 Sumber data Socialblade 

 

 

Top 10 Trending
Instagram Account

APRIL 2019

   
    Followers
1 ayutingting92 31.5M
2 raffinagita1717 29.5M
3 prillylatuconsina96 27.7M
4 princessyahrini 27.4M
5 laudyacynthiabella 25.7M
6 gisel_la 20.6M
7 raisa6690   20.5M
8 lunamaya  19.5M
9 jokowi 18.4M
10 inijedar 17.6M

Sumber data hypeauditor