Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, seharusnya fintech syariah kita mempunyai potensi besar untuk memimpin pasar di tanah air bahkan melakukan ekspansi ke negara-negara muslim lainnya.

Sayangnya selain rendahnya kesadaran penduduk muslim Indonesia untuk menerapkan ekonomi syariah dalam kehidupannya, kelincahan penyelenggara fintech syariah tidak seagresif fintech umum dalam melakukan penetrasi pasar.

Diperlukan edukasi ekonomi syariah yang lebih intens, terutama untuk generasi muslim millenial dan tentu saja fitur-fitur dan keuntungan ekonomi yang tidak kalah dengan fintech biasa.  


Apa itu Fintech? 

Fintech (financial dan technology) adalah sebuah inovasi di bidang jasa keuangan yang menggunakan teknologi informasi. Fintech merupakan sistem pembayaran atau pembiayaan yang termasuk baru di Indonesia sehingga meskipun telah banyak startup fintech, tapi masih banyak yang tersangkut izinnya oleh OJK.

Dengan fintech urusan pembayaran, pinjaman dan investasi menjadi lebih mudah, karena teknologi dapat memangkas banyak hal yang sering dijumpai dalam layanan jasa keuangan konvensional tetapi kemudahan itu juga sekaligus melahirkan dampak negatif, seperti maraknya fintech-fintech bodong asal china yang tidak bertanggung jawab.

(Untuk memahami jenis fintech, baca artikel : Mengenal Fintech dan Jenisnya di Indonesia)

 

Fintech Indonesia berbasis syariah

Diantara Fintech terkenal yang telah mengantongi izin syariah dari MUI adalah Paytren (jasa pembayaran) dan Ethis Crowd (jasa pengelolaan investasi properti).

Paytren adalah platform fintech untuk pembayaran atau pembelian seperti tagihan PLN, PDAM, rekening telepon, pulsa dan sebagainya. Paytren menawarkan penggunanya untuk hanya sekedar jadi pengguna atau bergabung dalam bisnis sejenis Multi Level Marketing yang berbasis e-commerce. 

Yusuf Mansur, Paytren, Pembayaran digital berbasis syariah 

 

 

Ethis Crowd hadir menawarkan platform crowdfunding properti berbasis syariah pertama di dunia yang menyediakan perumahan dengan harga terjangkau bagi masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah. Saat ini Ethis Crowd beroperasi di Indonesia, Malaysia dan Singapura. Crowdfunding merupakan platform pembiayaan masal berbasis patungan atau tempat bertemunya pemilik proyek dengan publik yang memberikan dana, yang difasilitasi oleh penyedia platform.  

Ronald Yusuf Wijaya, Ethis Crowd, Crowd Funding berbasis syariah

 

Perbedaan Fintech Syariah 

Perbedaan fintech biasa dengan fintech syariah adalah fintech syariah harus menerapkan syariat Islam yang telah ditetapkan oleh MUI, peraturan atau Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) No: 117/DSN-MUI/II/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah.

Fintech syariah tentunya mengadopsi aturan-aturan yang berlaku dalam jasa keuangan syariah yang harus bebas dari riba (bunga) gharar (ketidak pastian atau disembunyikan) dan masyir (spekulasi atau judi).

 

Ada tiga akad dalam fintech syariah :

1. Akad Murabahah (akad jual beli).
Penyelenggara fintech adalah pembeli atas produk yang diinginkan nasabah. Lalu penyelenggara akan menjual produknya kepada nasabah dengan jumlah keuntungan yang telah disepakati sebelumnya.

2. Akad Ijarah Wa Iqtina (akad sewa).
Penyelenggara fintech adalah pembeli atas produk yang diinginkan nasabah. Lalu penyelenggara akan menyewakan barangnya, yang di kemudian hari bisa dibeli oleh nasaba dalam kurun waktu yang telah disepakati.

3. Akad Musyarakah Mutanaqishah
Merupakan program pembiayaan yang berasal dari penyelenggara fintech dan nasabah (patungan). Masing-masing, akan memberikan modal untuk produk tertentu. Nasabah nantinya bisa membeli bagian yang dipunyai oleh penyelenggara fintech, sehingga nasabah memiliki hak penuh atas kepemilikan produk.


Menurut Abdul Mughni, Lc., MHI, pengajar Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Tazkia, beberapa jenis FinTech yang telah diatur kesyariahannya adalah jenis Peer to Peer Lending (pinjaman berbasis teknologi), uang elektronik (e-Money), dan gerbang pembayaran (payment gateway). “Sedangkan beberapa jenis FinTech seperti crowdfunding, market aggregator, risk and investment management belum memiliki fatwa syariahnya. Lain halnya seperti criptocurrency, maka ia hanya akan dikeluarkan fatwa DSN-MUI jika otoritas (Otoritas Jasa Keuangan – red) tidak melarang”

 

 

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia
 


Podcast - Mengenal Jenis E Commerce