Pesatnya perkembangan bisnis dunia online, ternyata merangsang semangat para milenial untuk menjadi entrepreneur. Beragam pilihan mulai dari membuat platform, konten kratif, perdagangan, jasa dan sebagainya yang berbasis online, membuat kini banyak startup baru yang dibidani oleh para milenial.

Dengan prinsip 'Mulai aja dulu!', membuat mereka menerjang segala keterbatasan, terutama masalah modal kerja. Mereka memiliki 'Semangat bambu runcing', dimana output menjadi hal utama, masalah lain seperti legalitas, tempat usaha bahkan keuntungan usaha adalah 'gimana nanti aja'.

Kisah 'Semangat bambu runcing' bukanlah dongeng. Perusahaan raksasa Microsoft milik Bill Gates lahir dari sekelompok persahabatan anak muda yang berkantor di kamar dan hotel jam-jam-an saat menerima tamu. Apple besutan Steve Jobs juga lahir dari garasi, Facebook milik Mark Zuckerberg lahir dari kamar kos hingga kemudian berkembang dirumah sewa.

Jobs dan Zuckkerberg memilih fokus pada output, barulah setelah mereka meyakini output produknya layak ditawarkan, mereka pun mencari pemodal agar memiliki kantor dan SDM yang ideal.

Bill Gates lebih gila lagi, ia bahkan menawarkan produk yang tidak ada. Sebelumnya mereka memang pernah membuat produk OS (operating system), tetapi sudah dijual ke Apple. Saat mereka sudah tidak lagi punya produk, Gates dan kawan-kawan bertandang ke IBM menawarkan OS yang tidak mereka miliki. Ternyata IBM tertarik bekerjasama, maka Gates pun pontang-panting mencari dan membeli OS milik pekerja IT rumahan untuk diberikan kepada IBM. Langkah tadi lah yang mengantarkannya menjadi orang terkaya di dunia selama bertahun-tahun.

 

Semangat Bambu Runcing William Tanuwijaya, Tokopedia

Di negeri sendiri, Tokopedia, Bukalapak, Gojek dan Traveloka juga memulai dari segala keterbatasan. Menurut cerita William Tanuwijaya pendiri Tokopedia, saat itu tidak ada seorang pengusaha pun yang percaya untuk memodali Tokopedia. Ia selalu dihadang pertanyaan, yaitu "Adakah contoh perusahaan platform IT yang sukses di Indonesia dan apakah ia pernah menjalankan perusahaan?", saat menawarkan kerjasama untuk investasi.

Karena sulit mendapat permodalan, maka William memulai segalanya dari apa yang dia punya. Saat sudah memulai ia masih memiliki kendala dimana pihak bank dan logistik, juga tidak ada yang tertarik menjadi partner ecommerce marketplace milikinya. Bahkan proposalnya pun tidak ada yang baca, sehingga akhirnya William memutuskan untuk melakukan masalah transfer pembayaran dan pengiriman secara manual. Kerepotan-kerepotan tadi yang tidak menghentikan langkahnya ternyata kini membawa Tokopedia menjadi salah satu startup unicorn di Indonesia.

Pada bulan pertama, Tokopedia hanya berhasil mendapat 509 merchants, 4.560 member denan nilai transaksinya hanya Rp 33 juta. Tetapi setelah setahun berdiri, Tokopedia mulai mengalami perkembangan pesat, yaitu memperoleh 4.659 merchant, 44.785 member dengan nilai transaksi yang menembus angka Rp 5,954 miliar.

William mengatakan, "Saya cuma lulusan pekerja warnet, benar-benar jarang ke kampus, kalau ke kampus pas ujian saja. Belum pernah pengalaman bangun bisnis, track record belum ada, jadi modalnya semangat bambu runcing."

 

Mental Kecoak Achmad Zaky, Bukalapak

Begitupula kondisi Achmad Zaky saat membidani Bukalapak. Menurutnya seorang pengusaha harus memiliki mental kecoak. Maksudnya adalah mental berani memperjuangkan sesuatu dengan kondisi seadanya dan keinginan untuk survive layaknya kecoak yang jika dibunuh tetap meronta-ronta bergerak.

Bermodal semangat kecoak, Zaky juga memulai Bukalapak dari kamar kos dan menjalin hubungan dengan para UKM. UKM menjadi pilihan karena perusahaan besar saat itu tidak ada yang mau bekerjasama dengannya. Semangat kecoak tadi lah yang mengantarkan Bukalapak juga menjadi salah satu perusahaan startup unicorn di Indonesia.

Zaki berpesan kepada para milenial, jika anda punya konsep bisnis, lalu orang-orang bilang 'Lu Gila', maka berarti konsep tersebut memang layak untuk diperjuangkan.

 

Ide Gila Nadiem Makarim, Gojek

Apa yang dibilang oleh Zaky memang tepat. Saat ini kita tentunya sudah sangat mengenal 'Gojek', juga salah satu perusahaan unicorn di Indonesia. Siapa yang tidak kenal? Tapi jika kita flashback saat dimana belum ada jasa transportasi berbasis online, jika kita ditawarkan konsep bisnis 'Gojek', baik kita sebagai tukang ojek, penumpang, apalagi ditawari sebagai pemodal, maka pasti kita juga bilang, 'Lu Gila?'.

Bayangkan saja jika kita sebagai pengojek, "Motor punya gue, Yang bawa juga gue, Yang ngisi bensin juga gue, Terus lu mau ngajak bagi hasil? Lu gila?". Dapat dibayangkan betapa berdarah-darahnya menawarkan konsep Gojek saat itu. Tetapi berbekal kegigihan dengan 20 mitra pengemudi, kini gojek telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi jutaan orang di Indonesia.

Nadiem mengungkapkan, bagi yang ingin menjadi founder startup, harus cukup 'gila' untuk menerima tantangan.

 

Jiwa Pantang Menyerah Ferry Unadi, Traveloka

Nasib krisis kepercayaan yang diberikan kepada perusahaan startup juga dialami salah satu perusahaan unicorn di Indonesia lainnya, yaitu Traveloka yang dibidani oleh Ferry Unadi. Ketika itu, tidak ada maskapai penerbangan yang ingin bekerja sama dengan Traveloka. Padahal Ferry merasa ada peluang, dimana masyarakat di Indonesia sering mengalami kesulitan dalam mencari tiket pesawat.

Mental pantang menyerah yang dimilikinya kemudian menjadikan Traveloka menjadi bsinis raksasa yang telah melebarkan sayapnya di enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Bukan hanya melayani pembelian tiket, Traveloka kini sudah menawarkan berbagai jasa layanan, mulai pemesanan hotel hingga pembelian pulsa. Tim kecil Traveloka yang awalnya beranggotakan 10 orang, kini juga sudah mencapai ribuan karyawan.

 

90% Startup Mati Sebelum Berkembang

Saat ini sebagaimana dilansir berbagai media, ke-empat pendiri perusahaan startup unicorn tersebut telah dinobatkan sebagai 150 orang kaya di Indonesia, bahkan yang termuda.

kisah sukses mereka ini sangat menginspirasi para milinial untuk mengikuti jejak mereka. Tetapi para pendiri startup harus ingat bahwa kenyataan 90 % dari total startup gagal untuk hidup.

Pada zaman William, Zaki, Nadiem dan Ferry, tantangan terbesarnya adalah mengenalkan sesuatu yang baru bahkan aneh bagi masyarakat. Tetapi itu berarti juga bahwa pada saat itu belum ada lawan yang harus dihadapi.

Saat ini bisnis yang berkaitan dengan online memang sudah tidak lagi asing bagi masyarakat tetapi pemain baru tentunya akan berhadapan dengan para pendahulunya yang sudah menjadi raksasa, belum lagi dengan kehadiran para raksasa dunia seperti Alibaba, Amazon, JD dan sebagainya.

Pemain baru yang memiliki konsep cemerlang, begitu lahir dapat dengan segera diintip dan dieksekusi oleh pemain besar secara lebih cepat, lebih canggih, lebih profesional dan segala kelebihan lainnya, karena mereka tidak memiliki kendala dalam hal permodalan.

Ternyata saat ini tidak cukup 'Semangat bambu runcing, Mental kecoak, Ide gila dan Jiwa Pantang Menyerah', Startup baru juga harus punya ilmu belut untuk mengindar dari cengkaraman atau injakan para raksasa.

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia
 


Band Indie Indonesia, Dialog Pagi meluncurkan single lagu Menyusuri Waktu

Novel Al Kahfi Land - Mencarimu Mengejar Waktu