Pertumbuhan E-commerce bergantung pada Logistik

Logistik merupakan bagian sangat penting dari mata rantai e-commerce. Tanpa dukungan logistik maka barang-barang tidak akan sampai dari tangan penjual menuju tangan pembeli. Berbeda dengan perdagangan konvensional yang dilakukan secara fisik, dimana kehadiran konsumen secara langsung tidak memerlukan lagi perusahaan jasa pengantaran. Singkatnya, tanpa dukungan dari perusahaan jasa pengiriman yang kuat dan tepat waktu, konsumen tidak akan memilih model e-commerce sebagai pilihan cara belanja

Saking pentingnya logistik, membuat para startup e-commerce mulai banyak yang membangun kebutuhan logistiknya sendiri. Selain ingin juga mencicipi keuntungan dari sektor logistik, para startup e-commerce ingin mengatasi sendiri permasalahan logistik dari pihak ketiga yang sering menghambat kemajuan sektor e-commerce, yaitu masalah biaya dan masalah kecepatan waktu.


Cainiao Network Pemimpin Logistik Global 

Saat e-commerce dari Alibaba Group mulai dikenal di Indonesia, para konsumen pun tertarik untuk membeli barang import dari China yang sudah terkenal lebih murah. Hanya saja khususnya untuk pembelian dengan jumlah sedikit, saat dihitung dengan biaya pengiriman dan kecepatan waktu pengiriman, maka barang tersebut tidak lagi menjadi murah.

Hal ini membuat Alibaba merasa perlu untuk membangun logistiknya sendiri, agar semua masalah tadi dapat teratasi. Alibaba pun mengenalkan Cainiao Network, sebuah platform terbuka yang mengumpulkan semua vendor last-mile.

Dengan kesadaran penuh bahwa perusahaan logistik memiliki pamasukan sekitar 70-80% berasal dari e-commerce, ia mendikte para pemain logistik di China untuk berdiri dibelakang Cainiao Network agar kelemahan mata rantai E-commerce di China dapat teratasi. Menurut Jack Mq, Cainiao bukanlah perusahaan logistik tradisional, Cainiao mengadopsi pendekatan baru dalam logistik.

Cainiao memiliki platform yang menghubungkan perusahaan logistik dengan internet yang disebut dengan "Smart Logistic System", dengan platform tersebut, semua pengantaran paket dapat dilakukan dalam tempo 24 jam ke seluruh kota di China dan 72 jam ke seluruh dunia.

Bahkan layanan logistik di Lazada Indonesia, perusahaan e-commerce yang telah diakuisisi olehnya,nantinya dipastikan akan terintegrasi dengan Cainiao big data network.

Lebih lanjut, saat acara Global Smart Logistics Summit, Jack Ma mengatakan bahwa kemajuan paling penting di negeri Cina bukanlah e-commerce, namun logistik.

Jack Ma mengatakan “Anda boleh kagum dengan e-commerce di China tetapi sektor logistiklah yang merupakan anugerah terbesar di China selama satu dekade terakhir ini."


Menurut Jack Ma, Logistik Adalah Kunci Pertumbuhan E-commerce Indonesia

Saat Jack Ma akhirnya resmi menjadi penasihat e-commerce di Indonesia, tanggal 23 Agustus 2017. Ia pun berkata bahwa Indonesia harus membenahi masalah yang berkaitan dengan jaringan informasi dan logistik.

Ia pun mengundang pejabat pemerintah Indonesia mengunjungi kantor pusat Alibaba Group di Hangzhou untuk menyumbangkan pengetahuan dan pengalaman langsung mengenai pengembangan e-commerce di China.

Hal ini patut menjadi lampu kuning bagi pemain logistik yang telah mapan di Indonesia karena Jack Ma telah melakukan sejumlah langkah kuda catur untuk membuka gerbang pintu masuk kapal induk Alibaba Group yang telah bersandar di kawasan Asia Tenggara.

Akuisisi Lazada dan suntikan dana untuk Tokopedia, bisa dijadikan lampu kuning jika nantinya dua e-commerce besar di Indonesia ini nantinya akan mengakhiri bulan madunya dengan para pemain logistik di Indonesia yang selama ini menjadi langganan mereka. Bukan tidak mungkin kedua e-commerce tersebut nantinya lebih nyaman memakai kendaraan logistiknya sendiri yang dinakhodai oleh Cainiao.

 

JNE Pemimpin Logistik Indonesia

Saat ini jika kita bicara logistik, maka pemain utamanya di Indonesia adalah JNE. Perusahaan logistik yang lahir dari rahim TIKI ini memiliki lebih dari 6000 jaringan jalur distribusi dan lebih dari 7000 armada.

JNE pun merupakan brand yang masih menjadi primadona konsumen sehingga JNE pun dinobatkan sebagai "1ST Indonesia Top Brand pada tahun 2017 Kategori-pengiriman versi Majalah Marketing, "Indonesian Customer Satisfaction Award pada tahun 2016 versi Majalah SWA dan menyabet banyak penghargaan lainnya.

Hanya saja pesatnya perkembangan teknologi akan membuat JNE harus beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan yang ada di sekelilingnya, jika tidak ingin dominasinya pada sektor logistik dicuri oleh para pesaing.

Menurut data sekitar 70% penghasilan JNE merupakan sumbangan dari sektor e-commerce. Melihat peta e-commerce pada saat ini, JNE telah dihadapkan oleh situasi untuk berperang dengan berbagai pesaing, mulai dari yang masih satu DNA, seperti J&T. JNE harus pula berhadapan dengan perusahaan logistik berbasis aplikasi, Tak hanya itu JNE pun telah harus berhadapan dengan perusahaan yang tadinya tidak dalam satu DNA, seperti Go-Jek.

Menurut kabar, J&T telah melakukan kerjasama strategis dengan Alibaba, dimana J&T pun telah menjadikan dirinya sebagai kantor resmi perwakilan Alibaba. Selain itu, para startup e-commerce rupanya masing-masing mulai membangun logistiknya sendiri-sendiri. Sebut saja,  Lazada dengan LEX Lazada Express, JD.ID dengan J Express, Bibli dengan Blibli Express, Mataharimall dengan Red Carpet Logistics dan sebagainya.

Bagaimana dengan persaingan JNE dengan perusahaan jasa pengiriman barang berbasis aplikasi? JNE memang memiliki Kekuatan dalam hal memiliki banyak gerai diseluruh Indonesia. Hanya saja kebiasaan konvensional, dimana konsumen harus datang ke gerai, tentunya bisa ditinggalkan disaat konsumen sudah mulai terbiasa dengan kebiasaan baru yang ditawarkan oleh seperti umumnya penyedia aplikasi, yaitu tetap berada di tempat, tekan tombol pesan lalu barang pun dijemput lalu diantar. Berikut ini adalah nama-nama pemain logistik berbasis aplikasi :  Deliveree, Ninja Easy, Porter, Anterin, Kargo, CariTruk, On-Trucks, Expedito, Andalin, Paket.id, Shipper, Easyparcel, Pickpack, Misterkirim, Popbox, Acommerce, Icommerce, 8commerce, Iruna, MrSpeedy, dan sebagainya.

Begitu pula dengan Go-Jek. Tadinya yang merasa terganggu adalah perusahaan transportasi konvensional. Rupanya Go-Jek, melalui Go-Send dan Go-Box juga telah mencicipi keuntungan dari bisnis pengantaran barang. Karena rupanya memang saat ini kecepatan telah menjadi kebutuhan utama.

Bukan cuma JNE, para pemain utama logistik di Indonesia diharapkan dapat beradaptasi terhadap perubahan secara cepat.

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia


Podcast - Mengenal Jenis E Commerce