Stasiun TV merupakan bisnis yang diminati oleh para pengusaha raksasa, khususnya TV swasta dengan jangkauan siar nasional. Padahal secara bisnis sebenarnya keuntungan dari industri Stasiun TV swasta ini hanya dinikmati oleh segelintir TV yang mampu berada pada peringkat-peringkat teratas dalam perolehan penonton, selebihnya bisnis ini hanya membakar uang untuk menutupi biaya operasionalnya yang tinggi.

Pernyataan ini pernah disampaikan oleh Chaerul Tanjung dihadapan para karyawannya usai mengakuisisi TV7. Tak heran jika kepemilikan TV walaupun dipegang oleh para pengusaha raksasa tetapi ternyata tidak banyak yang mampu bertahan lama untuk terus memilikinya. Hanya pemilik TV yang punya penonton banyak lah yang mampu bertahan.

 

Perjalanan Kepemilikan TV Swasta Masa ke Masa

Secara historis kehadiran TV swasta pertama di Indonesia dimulai sejak lahirnya RCTI (Rajawali Citra Televisi Indonesia), yang merupakan kerjasama antara Bimantara Citra perusahaan milik keluarga Cendana dengan Rajawali Corpora milik Peter Sondakh (24 Agustus 1989) yang kini memiliki RTV. Awalnya RCTI merupakan TV berbayar yang hanya dapat dinikmati oleh para pelanggan melalui dekoder.

Kemudian lahirlah SCTV (Surya Citra Televisi) yang juga dimiliki oleh Bimantara Citra melalui anak usahanya, Sindo Citra Media (kini Surya Citra Media). Awalnya SCTV merupakan TV lokal di Surabaya (24 Agustus 1990).

Pada tanggal 23 Januari 1991 lahir lah TPI (Televisi Pendidikan Indonesia, sekarang MNCTV) yang juga dimiliki oleh perusahan dari keluarga Cendana, Cipta Lamtoro Gung Persada, milik Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut). Berbeda dengan pendahulunya, TPI sejak awal sudah merupakan TV Terestrial sehingga dapat bersiaran secara nasional. RCTI dan SCTV pun akhirnya diberikan izin untuk melakukan siaran secara nasional pada tahun 1993. Sejak itulah Indutri TV Swasta menjadi menarik perhatian para konglomerat lainnya. Diantaranya yang tertarik adalah Abu Rizal Bakri, Sudono Salim, Jacob Oetama, Chaerul Tanjung dan Abdul Latief.

Abu Rizal Bakri, melalui Bakrie Group mendirikan AnTeve (Sekarang ANTV) pada tanggal 1 Januari 1993. Walaupun awalnya lahir sebagai TV Lokal di kota Bandar Lampung tetapi hanya sepuluh hari setelah izin tersebut keluar, ANTV sudah mengudara secara nasional walau jangkauannya masih terbatas.

Kemudian lahirlah Indosiar milik Sudono Salim, melalui Salim Group (11 Januari 1995). Disusul selanjutnya Metro TV milik Surya Palaoh, melalui Media Group (25 November 2000). TV7 milik Jacob Oetama, melalui Kompas Gramedia (23 november 20010). Trans TV milik Chaerul Tanjung, melalui Trans Corp (15 Desember 2001). Lativi milik Abdul Latief, ALatief Corporation (30 Juli 2002). Dan Global TV milik Bimantara (8 Oktober 2002) yang menyemarakkan kehadiran TV Swasta Siaran Nasional.

Sebagaimana pembahasan di awal artikel, pada perkembangannya banyak pengusaha yang akhirnya melepaskan kepemilikannya, baik secara total maupun tidak lagi dominan kepemilikannya.

Tahun 2003 merupakan awal tahun yang menjadikan Hary Tanoesoedibjo sebagai Raja Media, RCTI dan Global TV yang sebelumnya milik Bimantara akhirnya berpindah tangan ke Hary Tanoesoedibjo, melalui MNC (Media Nusantara Citra), begitu pula TPI yang sebelumnya dimiliki oleh Cipta Lamtoro Gung Persada, milik Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut), setelah terjadi perselisihan akhirnya pada tahun 2010 juga melengkapi kerajaan media Hary Tanoe dan namanya juga berganti menjadi MNCTV.

Pada tahun 2006, TV7 yang sebelumnya milik Jacob Oetama (Kompas Gramedia) pun harus dilepas ke tangan Chaerul Tanjung, untuk disandingkan bersama Trans TV sehingga nama TV7 menjadi Trans7.

Ditahun yang sama, Lativi yang sebelumnya milik Abdul Latif, rupanya juga harus direlakan untuk menjadi milik Abu Rizal Bakri. Selain berganti nama menjadi TVOne, kontennya juga berubah menjadi TV pemberitaan.

 

TV Tetap Bikin Pengusaha Penasaran

Sebenarnya industri TV masih membuat banyak konglomerat penasaran, hanya saja ada regulasi pemerintah yang membatasi penambahan stasiun TV baru dengan jangkauan siaran nasional.

Akhirnya mereka yang penasaran memanfaatkan celah melalui pendirian TV berjaringan. Yaitu dengan mendirikan TV-TV lokal baru atau mengakuisisi TV-TV lokal yang sudah ada, kemudian menjadikan TV-TV yang tersebar diseluruh wilayah tersebut dengan nama yang sama. Sebagaimana RTV yang sebelumnya merupakan gabungan dari TV-TV lokal seperti B-Cahnnel, Nusantara TV dan TV-TV lokal lainnya.

Oleh karena itu walaupun telah ada regulasi  pembatasan tetapi hingga kini kita masih melihat hadirnya TV-TV baru seperti RTV, Net dan INews. Bahkan Kompas Gramedia, setelah kehilangan TV7 kembali mewujudkan kerinduannya ber-TV melalui Kompas TV.

Apa yang membuat pengusaha penasaran? Dalam bidang apa pun, pastinya pengusaha selalu tertarik pada keuntungan.

Pendapatan utama dari TV adalah iklan. Jika membandingkan angka belanja iklan TV dengan jenis media lain di tahun 2017, Media Televisi memang mendominasi pendapatan iklan, yaitu 80% dari total belanja iklan atau mencapai Rp 115,8 triliun yang tersebar di 15 stasiun televisi nasional.

Tetapi dalam industri TV, keuntungan bukanlah satu-satunya hal yang diincar oleh pengusaha.

Sebagaimana yang kita tahu, dunia politik juga tengah diminati oleh banyak kalangan pengusaha. Dan TV hingga saat ini ternyata masih merupakan media yang paling kuat dan efektif untuk promosi. Tak heran walaupun disebut TV adalah bisnis bakar uang, tetapi tetap saja diminati oleh para konglomerat khususnya yang tengah menyelami dunia politik.

Walaupun tidak semua pengusaha TV tertarik untuk terlibat dalam dunia politik, tetapi dengan memiliki media yang kuat, maka pemilik media tersebut jadi sangat diperhitungkan baik oleh calon atau mereka yang sudah menduduki tempat sebagai pengambil kebijakan. 

Mereka butuh publikasi, pengusaha butuh iklim dan kebijakan yang aman untuk bisnis mereka.

 

 

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia
 


Podcast - Mengenal Jenis E Commerce