Nissa Sabyan penyanyi muda religi yang videonya paling ditonton


Benarkah Internet Membuat Para Musisi Menjadi Redup?

Internet memang telah menyuburkan pembajakan musik yang menyebabkan kelesuan industri musik. Tetapi sekaligus menjadi kemudahan bagi para pemain baru untuk masuk ke pentas terdepan di industri musik.

Ditengah kelesuan itu, para pemusik, khususnya dari generasi milenial dan perusahaan label yang masih bertahan, mencoba mendobrak kelesuan tersebut dengan memanfaatkan kemajuan perangkat online untuk mencari celah baru dalam bisnis musik.

Ternyata internet memberikan sejumlah keuntungan. Karena jika dilihat dari sisi promosi, justru kondisi saat ini malah memudahkan musisi untuk mengenalkan karya mereka, khususnya untuk para pendatang baru.
Perangkat online seperti Youtube, soundcloud, spotify dan berbagai media sosial kini telah menjadi senjata pamungkas, menggantikan cara promosi konvensional yang mensyaratkan modal finansial yang sangat besar.

Bandingkan dengan era sebelumnya, para musisi hanya bisa masuk ke industri melalui pintu perusahaan label, karena memang hanya perusahaan tersebut lah yang memiliki kekuatan finansial untuk melakukan promosi besar-besaran.

Tetapi pada saat era internet, dengan sarana media serba gratis, kreativitas merebut hati para para peselancar internet lah yang lebih dibutuhkan, ketimbang modal besar untuk promosi konvensional.

Begitupula untuk masalah produksi dan distribusi. Bandingkan dengan era sebelumnya, dimana hanya perusahaan label besar lah yang mampu mengongkosi biaya cetak cover, pengadaan material kaset atau CD, melakukan penggandaan serta pendistribusian ke seluruh gerai di Indonesia agar karya musik tersebut bisa sampai ke tangan pembelinya.

Sementara pada era internet, musisi sudah tidak perlu lagi melakukan berbagai hal tadi. Bahkan para musisi juga bisa sekaligus menjalankan bisnisnya sendiri, artinya secara otomatis keuntungan bisnisnya pun semuanya masuk ke kanton sendiri.

Tentu saja masalah pembajakkan tetap tidak bisa dihindari, oleh karena itu penjualan album atau lagu tidak boleh dijadikan sebagai satu-satunya sumber pendapatan.

Tak heran jika disaat para musisi konvensional yang dulu berjaya kini sudah banyak yang pensiun, sebaliknya para musisi baru yang akrab dengan dunia internet kini muncul menggantikan singasana mereka.

Sebut saja beberapa nama seperti Nissa Sabyan, Eka Gustiwana, Jeia, Jflow, Young Lex dan sebagainya yang bukan merupakan "TV Darling", kini lebih mampu mendobrak kelesuan dunia musik.

 

Aquarius yang sempat berjaya terpaksa hengkang dari industri musik 


Fenomena Indonesian Idol, TV Darling VS Trending Topic Darling

Tak bisa dipungkiri, dalam ajang pencarian bakat seperti "Indonesian Idol", pertarungan di Channel Youtube-nya tampak lebih seru ketimbang di TV.

Melalui Youtube, penonton ajang Indonesian Idol lebih puas memantau para jagoan mereka. Karena disitu penonton tentunya tidak dibatasi oleh masalah keharusan menonton sesuai jam tayang, masalah standar durasi TV, standar teknis TV, standar aturan konten TV dan sebagainya yang membuat konten Indonesia Idol versi Youtube menjadi lebih banyak dan lebih bervariasi. Apalagi ditambah keunggulan format Youtube yangn bisa di tonton dimanapun dan kapanpun.

Sayangnya penentuan pemenangnya dilakukan melalui seleksi polling SMS, dimana pengguna SMS dapat dipastikan adalah penonton TV. Tak heran kontestan yang sering merajai trending topic harus gigit jari, karena memang basis pendukungnya tidak berada didepan layar TV. Jadi jangan heran jika pemenangnya adalah "TV Darling" bukan "Trending Topic Draling".

Masalahnya adalah setelah "TV darling" memenangkan kontes tersebut, panggung mereka yang sesungguhnya untuk selanjutnya bisa eksis di bisnis musik adalah dunia online. Ini lah yang menjadi salah satu alasan kenapa pemenang kontes musik di TV kemudian menjadi redup setelah menjadi juara.

Apakah Pemenang Indonesian Idol nantinya bisa eksis di Industri Musik sesungguhnya?


Fenomena Sabyan Gambus

Jika Sabyan Gambus adalah musisi generasi era "Kaset dan CD". Maka rasanya sulit untuk dikenal seperti sekarang. Alasannya adalah selain sebagai pendatang baru, Nissa Sabyan juga bermusik digenre yang kurang diminati oleh perusahaan label besar era konvensional.

Nissa Sabyan, penyanyi yang masih berusia 19 tahun ini, memilih berkarya digenre lagu rohani Islam bersama Sabyan Gambus. Walau dimasukkan ke kategori gambus tetapi sebenarnya warna musiknya lebih cenderung masuk ke kategori pop yang bercorak notasi timur tengah karena menyuarakan lantun sholawat.

Judul lagu sholawat yang paling populer dibawakan Nissa Sabyan adalah Deen Assalam, Ya Jamalu, Law Kana Bainanal Habib, Ya Habibal Qolbi, Rahman ya Rahman, Ya Asyiqol Musthofa, Ahmad Ya Habibi, Ya Taiba, Qomarun, Assalamualaika ya Rasulullah dan sebagainya.

Yang mengejutkan adalah Video Channelnya di Youtube telah menduduki puncak Trending Topic Youtube saat artikel ini ditulis. Tidak hanya berada di puncak, bahkan beberapa video lainnya juga masuk di urutan besar Trending Topic, termasuk video dari re-uploder lainnya yang notabene bukan official.

Fenomena ini tentunya membuktikan bahwa Youtube merupakan panggung pasar bebas yang mengizinkan siapa pun berlaga dan menyerahkan pilihan pemenang sepenuhnya kepada para penontonnya. 

Nissa dan Sabyan Gambus mampu membuktikan musik religi mampu menjadi trending topic

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia

 


Band Indie Indonesia, Dialog Pagi meluncurkan single lagu Menyusuri Waktu

Novel Al Kahfi Land - Mencarimu Mengejar Waktu