Badai Online telah meruntuhkan berbagai bidang bisnis konvensional, bahkan termasuk bidang bisnis media. Yang tampak jelas telah menjadi korbannya adalah media cetak. Saat ini sejumlah nama koran, tabloid hingga majalah telah menghilang dari pasar.

Beberapa yang masih sempat bertransformasi menjadi media online sebelum nama mereka redup tampak lebih beruntung, walaupun namanya sudah tidak lagi menjadi raja di dunia barunya. Sementara yang lambat melihat dan beradaptasi terhadap peubahan, terpaksa mengucapkan selamat tinggal kepada pembacanya. 

 

Sederet nama yang telah hilang dari pasar adalah :

1. Koran : Sinar Harapan, Harian Bola, Jakarta Globe, Harian Jurnal Nasional, Bloomberg Bisnisweek Indonesia dan sebagainya.
2. Tabloid : Soccer, Motor dan sebagainya.
3. Majalah : Fortune, Chip, Hai, Cosmo Girl Indonesia, FHM, Maxim, Trax, T3, Kawanku, Rolling Stone dan sebagainya.

Media cetak, selain menggantungkan penghasilan pada penjualan, tentunya juga bergantung pada iklan. Menurut data Nielsen, belanja iklan di koran sudah tergerus sejak kuartal ketiga (Q3) 2014. yaitu menjadi minus, yakni -1% dibandingkan periode yang sama tahun 2013. Pada Q4 2014, belanja iklan koran nasional kembali minus 2%. Padahal, pada Q1 dan Q2 2014, belanja iklan di media koran masih menunjukkan angka yang positif, yakni masing-masing 9% dan 3%.

Memasuki tahun 2015, belanja iklan di media koran makin turun drastis, yakni -11% pada Q1 2015. Pada Q2 dan Q3 2015, belanja iklan di koran masih menunjukkan penurunan. Tentunya tanpa pemasukkan iklan, media cetak hanya bisa menggantungkan penghasilan pada penjualan, dimana mereka harus bersaing dengan media online yang kontennya bisa dibaca secara gratis, lebih up to date karena tidak perlu menunggu proses cetak dan lebih praktis untuk dibaca. Tapi benarkah media online (khususnya media pemberitaan) memiliki pendapatan besar sebagaimana media cetak saat periode emasnya?

 

Pendapatan Media Pemberitaan Online Belum Tentu Sebesar Media Pemberitaan Cetak

Walaupun telah menghajar telak media pemberitaan cetak, ternyata media pemberitaan online  tetapi secara pendapatan mereka masih harus berjuang keras. Sayangnya belum ada riset yang kredibel dan terbuka untuk pasar Indonesia tentang berapa besar angka pendapatan sesungguhnya dari media-media online.

Walaupun banyak website pengukur pendapatan website, tapi angkanya cuma didapat dari perkiraan berdasarkan jumlah pengunjung dan parameter-parameter lainnya yang tetap saja angka tersebut tidak menjamin jumlah pendapatan sesungguhnya, sehingga Trendingbisnis.com berasumsi media pemberitaan online tidak serta-merta mendapat tongkat estafet pendapatan dari media pemberitaan cetak yang telah banyak hilang dari pasar, dengan alasan sebagai berikut :

1. Media pemberitaan online diakses secara gratis sehingga tidak memiliki pendapatan dari oplah penjualan sebagaimana media cetak.

2. Walaupun bisa memasang iklan sendiri tetapi para pengiklan lebih memilih melalui google adsense atau afiliasi iklan, sehingga media pemberitaan online hanya mendapat potongan kecil pendapatan kue iklan dari google adsense atau afiliasi iklan.

3. Media pemberitaan online pun masih harus berjuang keras melawan saudaranya sendiri di dunia online, yaitu Youtube dan  penyelenggara media sosial. Karena generasi milenial yang senang hal yang serba instan, lebih menyukai konten video dan berita viral dari media sosial.

 

TRENDINGBISNIS 
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia 


Podcast - Mengenal Jenis E Commerce