Bab 4. Merancang Bisnis Online

1. Mengenal Bisnis Online 

Berdasarkan laporan Google, Temasek, dan Bain bertajuk e-Conomy SEA 2019, nilai ekonomi berbasis internet di Asia Tenggara diperkirakan mencapai USUSD 100 miliar atau 1.418,7 triliun tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebesar 40% atau senilai USUSD 40 miliar (sekitar Rp 567,9 triliun) berasal dari Indonesia.

 

Secara sederhana arti bisnis online adalah kegiatan bisnis yang dilakukan melalui media internet. Jadi yang membedakan antara bisnis online dengan bisnis tidak online atau konvensional hanyalah tentang memanfaatkan media internet, tetapi jika anda ingin memasuki kancah perang bisnis online, maka penjelasannya tidak lagi sesederhana itu. Maka bagi kita yang berencana terjun di dunia bisnis online, sebaiknya pelajari dulu seluk beluk dunia bisnis online agar tepat sasaran dan tidak melakukan kesalahan-kesalahan seperti contoh kasus di bawah ini.

 

EBO Story

Salah Kaprah Soal Bisnis Online

Seorang pengusaha bernama Mr. Oldschool (disingkat menjadi Mr. O) memiliki perusahaan besar dengan brand terkenal bernama Oldys. Oldys dipasarkan dengan berbagai macam cara, diantaranya melalui gerai-gerai miliknya di Mall, Sales lapangan (B2B dan B2C), dan Sales tele-marketing (Program advertorial di stasiun TV)

Sayangnya dalam setahun terakhir ini pendapatan perusahaannya terus menurun, tanpa Mr. O sadari bisnisnya terkena badai disruption. Kondisi adalah sebagai berikut  :

 

1. Gerai-Gerai Oldys Sepi Pengunjung.

Menurut laporan staffnya Mr. O, Mall semakin sepi pengunjung. Padahal Mall sebenarnya tetap ramai, yang sepi hanya di bagian gerai Oldys dan gerai-gerai di sekitarnya. Ada apa sebenarnya?

Ternyata karena konsumen telah shifting, yang tadinya mengunjungi gerai menjadi belanja online, sehingga bagian Mall yang ramai oleh pengunjung hanyalah tempat untuk kebutuhan hiburan dan leisure, seperti bioskop, food court, cafe, game zone dan sebagainya.

Sayangnya Mr. O belum tahu bahwa ia juga bisa membawa gerainya ke dunia online dengan membuat e-commerce.

 

2. Sales Lapangan Tidak Lagi Mendapat Support Keuangan.

Para Sales lapangan Oldys yang tadinya handal kini menyerah dan terpaksa hengkang dari perusahaa, karena bagian keuangan semakin mengencangkan ikat pinggang. Perusahaan memangkas segala biaya transportasi, biaya cetak brosur, biaya entertain dan biaya-biaya lainnya karena pendapatan terus menurun.

Sayangnya Mr. O juga belum tahu tentang digital marketing, bahwa satu brosur digital yang disebar secara online dapat menghemat waktu dan menggantikan biaya cetak satu truk kontainer brosur dan ongkos keliling Indonesia untuk menyebarkan brosur tersebut ke satu-persatu konsumen. 

 

3. Sales Tele-marketing Sepi Penelepon.

Biaya yang dikeluarkan untuk belanja spot iklan (slot per 30 detik) dan blocking time (program advetorial 30 menit) di stasiun televisi lumayan mahal, tetapi hasilnya sudah tidak seperti dulu. Jangankan pembeli, jumlah data penelpon yang masuk untuk bertanya tentang produk dari program advertorial TV tersebut semakin sedikit.

Tentu saja banyak kemungkinan yang menyebabkan hal itu terjadi, salah satunya adalah penurunan jumlah audiens TV. Menurut Ishadi SK, Komisaris Transmedia, yang dilansir dari berbagai media onlien, jumlah penonton TV FTA (Free to air) cenderung menurun. Ia juga mengatakan, tantangan terberat televisi saat ini adalah disrupsi digital. Stasiun televisi mulai kehilangan penonton setianya.  

Memang sebagian penonton TV telah banyak yang shifting menjadi penonton paltform digital, salah satunya melalui Youtube. Tetapi sebenarnya masalah migrasi paltform tersebut masih bisa ditangani oleh pemasar yang punya target pasar penonton TV, karena paltform Youtube itu sendiri ternyata banyak digunakan untuk menonton konten acara televisi, menurut survei Kantar TNS 65%, pengguna internet Indonesia menggunakan Youtube untuk menonton program TV.

Mr. O pastinya juga tidak tahu, bahwa ia masih punya kesempatan bertemu penonton program advetorialnya yang bermigrasi ke paltform Youtube. Ia bisa mengunggah program advetorial tersebut ke Youtube, atau lebih hebat lagi jika ia membuat channel dan konten program sendiri yang sesuai dengan karakteristik penonton Youtube.

 

Rupanya Mr. O akhirnya sadar, bahwa jalan keluar satu-satunya agar selamat dari badai disruption tersebut adalah ikut menjalankan bisnis online. Tetapi sayangnya ia langsung terjun tanpa mempelajari seluk-beluk dunia online dengan benar, sehingga salah kaprah di dunia barunya. Seharusnya ia tahu hal-hal berikut ini  :

 

1. Bisnis Online Adalah Bisnis, Bukan Soal IT.

Mr. O mengira bisnis online hanyalah tentang memiliki website dan media sosial, sehingga ia menyerahkan urusan bisnis online kepada tenaga IT di perusahaannya karena ia kira paling mengerti tentang dunia internet.

Bisnis walaupun berwujud online tetaplah bisnis, sehingga harus dipegang oleh pebisnis, kecuali untuk hal teknis barulah kita harus dibantu oleh mereka yang ahli di bidang tersebut.

Founder Facebook Mark Zuckerberg kebetulan seorang programmer IT, tetapi founder Alibaba, Jack Ma sama sekali tidak punya pengalaman dan skill di bidang IT. Kedua orang tersebut punya latar belakang dan kemampuan berbeda dalam bidang IT tetapi keduanya pasti seorang pebisnis handal.

Bedakan antara urusan bisnis dengan inovasi teknologi, Mark Zuckerberg pasti bisa mengurusi kedua hal itu, tetapi Jack Ma tentu lebih fokus pada bisnis dan menyerahkan pada ahli IT untuk urusan inovasi teknologi. Dalam kasus Mr. O, dia malah menyerahkan kedua urusan tersebut pada ahli IT.

Contoh sederhananya, pebisnis kedai kopi yang tidak tahu tentang kopi tapi nekat menjadi barista pula, maka akan melahirkan kopi yang rasanya tidak karuan. Begitu pula barista yang tidak tahu tentang bisnis tapi nekat menjalankan bisnis kedai kopi, maka bisa saja melahirkan kopi terbaik tetapi tidak laku di pasar.

Banyak keputusan bisnis yang harus diambil oleh Mr. O atau tidak bisa di serahkan begitu saja pada staff Itnya, misalnya  :

  • Jenis e-commerce apa yang paling tepat untuk bisnisnya?
  • Jika memilih marketplace, apa strategi untuk mengumpulkan para merchant, dan bagaimana cara mengelola big data menjadi sumber income?
  • Jika hanya ingin menjual produk saja, mana yang lebih efektif, menumpang di marketplace terkenal atau membuat online shop sendiri?
  • Bagaimana bentuk kerja sama dengan pihak bank, fintech, logistik dan sebagainya,
  • Apa strategi brand awareness, organik atau iklan?
  • Jika organik, bagaimana dengan SEO dan pengadaan konten?
  • Jika iklan, berapa alokasi budjet yang harus disiapkan dan akan ditempatkan di media mana?

 

2. Ini Memang Bisnis, Tapi Ini Bisnis Online.

lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya.”

Bisnis harus dipegang oleh pebisnis. Tapi jangan lupa, ini adalah tentang bisnis online, maka artinya bisnis online juga harus dipegang oleh pebisnis online.

Dari contoh sebelumnya kita dapat melihat, banyak sekali istilah-istilah asing yang membuat dahi orang-orang yang belum melek bisnis online berkerut, padahal kita baru pemanasan.

Mr. O adalah pebisnis handal, tapi ia buta tentang dunia bisnis online. Dia memiliki banyak toko nyata yang tersebar di seluruh Mall di kota-kota besar, maka dia ingin mengulangi kesuksesannya di dunia nyata dengan membuat banyak toko online untuk meraih pelanggan sebanyak-banyaknya.

Mr. O belum paham bahwa dalam dunia online tidak ada batasan geografis, satu website sudah cukup karena dapat diakses dari seluruh dunia. Bukankah satu website bernama Alibaba.com mampu melayani pasar dunia? Tidakkah satu website bernama Tokopedia.com mampu melayani pasar Indonesia?

Karena tidak tahu, Mr. O meluncurkan Oldys.com, Oldys.co.id, Oldys.TV, Oldyshop.com, Oldysofficial.com, Oldysofficial.co.id, Oldys-jakarta.com, Oldy-surabaya.com dan sebagainya di internet, ternyata hasilnya pelanggan malah bingung, mana situs resmi (official) yang sebenarnya? Akhirnya pelanggan malah menganggap semua situs tersebut tidak ada yang resmi.

Mr. O tidak perlu membuat toko online sebanyak-banyaknya kecuali dengan pertimbangan :

  • Suatu lokasi butuh pendekatan lokal, contoh JD.com yang berasal dari China membuat JD.id untuk menyesuaikan etalase, produk dan layanan yang sesuai dengan cita-rasa konsumen di Indonesia.
  • Ada segmentasi pasar khusus yang cukup besar sehingga harus membuat website khusus yang terpisah, contoh Berrybenka membuat Berrybenka.com untuk target pasar pengguna fashion umum dan Hijabenka.com, untuk target pasar khusus pengguna fashion dari kalangan Hal ini dilakukan karena segmentasi pengguna pakaian muslim dianggap punya pasar yang besar dan potensial untuk didekati secara khusus. Alibaba Group membuat alibaba.com untuk pedagang grosir dan Aliexpress.com untuk pedagang retail.
  • Perusahaan memiliki banyak jenis bisnis yang berbeda, contoh Rocket Internet dari Jerman, mereka membuat Lazada untuk menjual segala jenis produk, Zalora untuk menjual produk fashion, Home24 untuk menjual furnitur, ShopWing untuk menjual bahan-bahan masakan, PrinTVeneu untuk jasa percetakan.

 

3. Di Dunia Online, Umpan Cacing Dapat Ikan paus! Benarkah?

Alibaba berhasil menjadi perusahaan raksasa di dunia hanya karena memiliki sebuah website.

Kisah sukses Jack Ma tentunya banyak menginspirasi orang-orang, termasuk Mr. O. Bayangkan! Jack Ma berhasil menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan bermodal sebuah website bernama Alibaba.com.

Pengusaha mana yang tidak mampu memiliki website? Harga parkir domain setahun lebih murah dari harga parkir mobil 3 hari di perkantoran jendral Sudirman, kurang lebih Rp. 100.000. Harga membuat website di tambah jasa hosting juga lebih murah ketimbang membuat gerobak baso, bahkan banyak pula template dan hosting website gratisan.

Mr. O sangat senang mendengar ini, dia tak sabar ingin cepat memiliki toko online agar namanya nanti bisa disandingkan dengan Jack Ma oleh Forbes. Apalagi menurut informasi yang dia dapat, punya toko online dijamin jauh lebih irit dibanding toko nyata, tidak ada biaya sewa tempat, iuran listrik, gaji penjaga toko, jatah preman dan sebagainya.

Cita-citanya bagus karena sangat besar, tetapi sayangnya keberaniannya dalam urusan modal tidak sebesar cita-citanya, ia takut mengeluarkan banyak uang untuk mewujudkan sesuatu yang tak berwujud (intangible asset), padahal untuk bisnisnya di dunia nyata, ia berani habis-habisan.

Tidak ada yang salah dari informasi-informasi tadi, tetapi jangan lupa, bisnis didunia nyata pun juga bisa dibuat murah bahkan gratis kalau mau. Tidak percaya? Mr. O bisa berjualan gratis tanpa membayar biaya sewa tempat, iuran listrik, gaji penjaga toko dan sebagainya kecuali jatah preman, yaitu berjualan sendiri dengan menggelar tikar di atas trotoar.

 

Jadi masalah modal kecil atau besar itu, bukanlah soal bisnis online atau bisnis nyata, tetapi seberapa besar tingkat keuntungan yang ingin dicapai.

Bandingkan langkah bisnis Mr. O saat menjalani bisnis konvensionalnya. Dia berani menyewa tempat di mall yang paling besar dan ramai, membayar arsitek handal untuk membuat toko semenarik mungkin, mempekerjakan banyak pelayan toko yang cakap, bahkan mengenalkan brandnya melalui iklan diberbagai media konvensional walau mahal.

Seharusnya saat menjalani bisnis online. Mr. O juga berani membayar ahli yang handal sehingga toko onlinenya juga sekelas dengan Zalora.

Oldys.com harus memiliki tampilan menarik, foto-foto menggunakan model dan fotografer profesional. Memiliki server sendiri yang mumpuni sehingga kecepatannya mampu meladeni satu Indonesia dan aman. Memiliki banyak karyawan untuk melayani pertanyaan, pemesanan, keluhan, pengepakan dan pengiriman barang yang cepat. Memiliki banyak fitur kemudahan dan pilihan cara pembayaran dan pengiriman barang.

Oldys.com harus mudah ditemukan saat calon konsumen mengetik kata kunci (keyword) atau mencari sesuatu yang berhubungan dengan produk-produknya di mesin pencari Google.

Misalnya Oldys.com menjual furnitur, maka toko harus memenangkan pencarian pada halaman pertama, saat calon konsumen mengetik keyword cari furnitur, jual furnitur, beli furnitur, harga furnitur, toko furnitur, dagang furnitur dan sebagainya.

Menangkan juga jika keyword furnitur diganti dengan varian produk yang dijual, misalnya, cari meja, cari kursi, cari sofa, cari tempat tidur, cari lemari, cari rak dan sebagainya, termasuk jika keyword ‘cari’ diganti dengan kombinasi seperti contoh sebelumnya.

Menangkan juga jika keyword dikembangkang lagi, misalnya sofa keren, sofa bagus, sofa murah, sofa cantik, sofa berkualitas, sofa minimalis, sofa baru, sofa paling laku, sofa paling dicari, sofa buatan Jerman, sofa asli Indonesia dan sebagainya.

Dan yang tidak kalah penting Oldys.com harus dikenal. Perang antar e-commerce yang paling dahsyat adalah perang budget iklan.

Menurut data Nielsen tahun 2017 di Indonesia, e-commerce menguasai 63% dari total belanja iklan sepanjang 2017 dengan nilai mencapai Rp 4,1 trilun.

Per 16 Desember 2018, Adstensity mencatat belanja iklan perusahaan marketplace mencapai Rp 4,97 triliun. Total belanja iklan Bukalapak Rp 813,78 miliar, Shopee Rp 765,11 miliar, Traveloka Rp 459,87 miliar dan Tokopedia Rp 395,23 miliar.

Serius mau terjun di bisnis online?

 

Buku Era Bisnis Online - Anak Muda vs Raksasa Bisnis (penulis, Indra Wibawa)

Trendingbisnis.com - Informasi Bisnis Online