Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbesar di dunia. Hal ini membuat Indonesia menjadi negara yang memiliki potensi pasar yang besar. Potensi ini seharusnya tidak menjadikan Indonesia, hanya menjadi penonton atau sasaran target pasar dari negara-negara lain yang agresif menjadi penguasa pasar global.

Potensi ini harus di manfaatkan, setidak-tidaknya menjadi sebuah modal awal, melangkah sebagai pemain terdepan di negeri sendiri untuk kemudian melebarkan sayap ke pasar global.

Sayangnya ditengah kegamangan pengusaha lokal berhadapan dengan pasarnya sendiri, peranan pemerintah dalam mendukung, membina dan memproteksi pemain lokal terasa kurang sepenuh hati.

 

Dalam dunia e-commerce, ada dua pihak yang seharusnya diberi perhatian khusus.

1. Para Startup.

Para starup yang biasanya adalah generasi muda, mereka baru menapaki dunia bisnis. Ide cemerlang dan semangat mereka yang tinggi akan terbentur masalah klasik untuk memulai usaha. Mulai dari masalah legalitas, kebutuhan tempat usaha yang juga menjadi syarat legalitas salah satu bentuk badan usaha, dan masalah berikutnya adalah ujung-ujungnya duit, untuk operasional bahkan untuk masalah legalitas dan tempat usaha tadi.

Belum lagi masalah kepercayaan dari berbagai pihak seperti pihak pemberi modal, pihak rekanan seperti pedagang untuk jenis e-commerce market place, pihak bank dan jasa keuangan lainnya, pihak perusahaan logistik, hingga pihak target pasar mereka sendiri. Hal ini pun pernah dirasakan oleh William Tanu, pendiri e-commerce Tokopedia saat memulai bisnisnya.

Masalah penting lainnya adalah berjuang untuk mengenalkan brand awareness e-commerce yang telah mereka buat. Perang utama e-commerce pada saat ini adalah perang iklan. Kalau cuma masalah perang kreatifitas dan fitur, para startup pasti mampu. Tapi jika sudah menyangkut perang menjadi brand yang tertancap di ingatan konsumen, anggaran belanja iklan lah penentunya.

Kondisi sekarang sangat berbeda dari saat Tokopedia dan Bukalapak memulai usahanya. Saat ini para Raksasa E-commerce global dan konglomerat lokal sudah masuk dalam arena. Dimana mereka dengan mudahnya mengeluarkan milyaran rupiah agar brand mereka selalu terlihat kemana pun mata konsumen memandang.

Ironisnya para pemain e-commerce lokal yang telah memulai bisnis dari bawah hingga menjadi raksasa pun kini sudah tak bisa lagi mengklaim dirinya sebagai e-commerce punya anak bangsa. Dibelakang mereka kini telah ada raksasa global yang telah menjadi tuannya.

Tanpa peran nyata pemerintah untuk membantu mereka mengatasi masalah tersebut, ide cemerlang dan semangat tinggi para startup hanya akan terkubur hidup-hidup. Kenyataannya Kita tidak bisa cukup hanya menyemangati, agar semut mampu melindas gajah.


2. Para pedagang UMKM.

Pedagang UMKM merupakan rekan para startup. Euforia dagang online cukup membuat UMKM mulai bergairah. Tapi bulan madu ini sepertinya tidak akan bertahan lama. Produk-produk asing terutama dari tempat Alibaba dan JD berasal, yaitu China, akan menjadi lawan yang terlalu tangguh untuk dikalahkan, bahkan untuk dikalahkan oleh Amerika, negara-negara maju di Eropa hingga Asia. Dengan dukungan serius pemerintahnya, produk-produk mereka bisa dibandrol dengan harga yang murah.

Pedagang UMKM pun memiliki masalah yang sama klasiknya dengan masalah para startup tadi. Setelah habis-habisan menggelontorkan uang untuk memulai usaha, mereka harus punya banyak uang pula saat berjualan.

Jeruk China bisa lebih murah dari Jeruk Medan yang dijual di Jakarta. Ada anekdot tentang pungli yang mengatakan, Jeruk China hanya membayar pungli satu kali, yaitu di pelabuhan, saat tiba di Jakarta, sementara Jeruk Medan harus melintasi sekian banyak penguasa yang memungut pungli. Mulai dari Penguasa berseragam resmi, berseragam ormas, yang tidak berseragam hingga pencuri. Dan pastinya semua biaya gaib itu akan dibebankan pada harga jual.

Dengan beralihnya kepemilikan E-commerce lokal menjadi E-commerce Asing, tentunya rak-rak belanja produk lokal UMKM akan tergeser jauh di bagian belakang toko oleh produk-produk mereka yang memang lebih menarik secara harga.

Sekali lagi tanpa peran nyata pemerintah, segala pembinaan UMKM tanpa mengatasi masalah sebenarnya, sama seperti mengajari orang menyetir kendaraan tanpa memakai kendaraan.


Keputusan pemerintah untuk menunjuk Jack Ma sebagai advisor e-commerce Indonesia, tepatkah?

Ini memang patut dipertanyakan, sudah benarkah keputusan pemerintah untuk menunjuk Jack Ma sebagai advisor dengan tujuan agar Indonesia berperan di sektor e-commerce global?

Menempatkan pihak yang punya kepentingan untuk menguasai pasar Indonesia menjadi penasehat harus dipertimbangkan secara sangat matang. Apakah mungkin pihak yang ingin menjadi pemain utama di pasar kita mau menjadi penonton dengan merelakan pasar itu kita kuasai sendiri?

Terlepas dari tulus atau tidaknya nasihat yang akan diberikan Jack Ma, Kitamemang kita harus belajar dari Jack Ma yang telah mengangkat Alibaba menjadi salah satu E-commerce terbesar di dunia. Tentunya keberhasilan Alibaba tidak lepas dari keberhasilan Pemerintah China yang telah berhasil menggenjot ekonomi negaranya. Serbuan produk China di pasar global yang sangat unggul dalam menekan harga telah menciutkan nyali banyak negara. Apalagi secara kualitas produk dari China sudah tidak bisa lagi diremehkan seperti pada saat sebelumnya.

Produk dari China mulai diminati di banyak negara, sehingga kehadiran Alibaba sebagai e-comemerce marketplace skala pedagang besar mempermulus produk-produk China keluar sarang atau untuk dicari. Untuk memenuhi permintaan skala kecil, Jack Ma pun membuat peluru barunya, yaitu Aliexpress.

Kendala berikutnya adalah masalah logistik. Produk yang murah masih kurang menarik jika ongkos kirimnya mahal dan waktu pengirimannya lama. Untuk mengatasi masalah tersebut, Jack Ma meluncurkan Cainiao Network, sebuah platform terbuka yang mengumpulkan semua vendor last-mile. Dengan kesadaran penuh bahwa perusahaan logistik memiliki pamasukan sekitar 70-80% berasal dari e-commerce, ia mendikte para pemain logistik untuk berdiri dibelakang Cainiao Network agar kelemahan mata rantai E-commerce di China dapat teratasi.

Belum cukup sampai disitu, untuk menjadikan Alibaba Group sebagai kapal induk terbesar, terkuat dan terlengkap, yang siap menjelajahi dunia untuk melakukan ekspansi menguasai pasar global, Jack Ma juga memiliki Alipay  dan Ant Financial untuk mengamankan sektor pembayaran online sehingga tidak ada lagi keraguan terhadap keamanan dan kenyamanan masalah tersebut baik pedagang maupun pembeli.

Alibaba juga memiliki Taobao Affiliate Network, sebuah kemitraan afiliasi iklan yang menawarkan para penyelenggara konten online untuk menyediakan etalase untuk menjajakan produk-produk dari Alibaba Group. Hal ini tentunya akan menikung kemapanan Google adsense. Saat ini saja saat secara kasat mata, saat berselancar di internet, iklan yang paling mendominasi adalah produk-produk yang ditawarkan e-commerce dan iklan perusahaan E-commerce itu sendiri. Angka survey dari Polling Indonesia pada tahun 2016 pun menunjukkan bahwa 130,8 juta jiwa penduduk Indonesia, menggunakan internet untuk menawarkan atau mencari barang dan jasa. Hadirnya Taobao tentunya membuat ketergantungan Alibaba terhadap google adsense akan berkurang bahkan akan mengambil jatah periuk nasi mereka. Untuk memberi gambaran tentang perkembangan Alibaba dalam search ad, pangsa pasar search ad Google Cina pun akhirnya menyerah dan keluar dari pasar Cina.

 

Jack Ma sangat tidak main-main untuk menguasai pasar global, apakah mungkin ia melewatkan Indonesia sebagai pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara?

Akuisisi Lazada di Indonesia dengan nilai US$1 miliar (sekitar Rp13,3 triliun) merupakan jurus kuda troya yang dimainkan Alibaba di Indonesia.

Sebelumnya, kehadiran Alibaba dan Aliexpress versi Indonesia ternyata belum terlalu menggugah Pasar e-commerce di Indonesia. Pasar Indonesia masih lebih nyaman dengan Lazada, Tokopedia, Bukalapak dan sebagainya, yang mungkin dianggap perusahaan lokal atau masih perusahaan lokal yang lebih memahami karakter pasarnya sendiri. Untuk itu, menguasai e-commerce yang telah menguasai pasar tentu lebih mudah ketimbang masuk dengan brand yang sudah dianggap berbau asing. 

Dengan akuisisi Lazada, kini etalase pedagang produk-produk luar negeri yang terafiliasi dengan Taobao bersanding dengan pedagang yang telah lama memliki rak di Lazada. Setelah Lazada, Jack Ma pun menanam investasi Di Tokopedia USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun.  Kapal induk Alibaba yang telah merapat tinggal meluncurkan peluru lainnya di sektor jasa finansial seperti Alipay dan Ant Financial, kemudian di sektor logistik dengan Cainiao.

Tentu saja langkah-langkah itu tidak menyalahi bisnis, bahkan kita harus banyak belajar dari Jack Ma untuk menjadi pemain utama dalam pasar global. Mengenai keputusan pemerintah yang mengangkat Jack Ma sebagai penasehat e-commerce di Indonesia harus ditanggapi dengan positif karena kita telah dimentori oleh sosok paling penting skala global dalam bidang e-commerce tetapi juga harus sekaligus difilter secara bijak rekomendasi-rekomendasi yang akan diberikannya. 

Kita akan lihat apakah nantinya para Startup dan UMKM lokal akan menjadi penguasa pasar atau E-commerce miliknya yang semakin merajai pasar Indonesia setelah keputusan pemerintah akan hal tersebut? 

 

TRENDINGBISNIS 
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia 
 


NEWS

 

Trend Iklan Dengan Teknnologi Augmented Reality dan Virtual Reality

Teknologi AR dan VR kini menjadi medan perang baru bagi bisnis perusahaan-perusahaan besar. Facebook, Google dan Microsoft sudah bertarung memperebutkan iklan pada area ini. Menurut kabar Reuters, Facebook sedang melakukan ujicoba iklan Augmented Reality (AR) di News Feed bersama sejumlah brand terpilih.

.

Read more ...

 

Gurita E-Commerce, Monopoli atau Inovasi?

Trend e-commerce saat ini, Sebuah startup akan menjalankan ketiga hal, yaitu Platform marketplace, Financial Services dan Logistik. Walaupun awalnya mereka memulai dari salah satunya.

Read more ...

 

Youtube Lebih Dari TV, Yakin?

Menurut riset Nielsen, di Tahun 2017, secara gross, pertumbuhan belanja iklan media (televisi, cetak, dan radio) tetap tumbuh, yaitu naik 8% atau senilai Rp 145 triliun. Namun, jika dibanding dengan tahun sebelumnya yang bisa mencapai angka pertumbuhan 20%, angka tadi merupakan penurunan.

Read more ...

 

Trend Belanja Online Tahun Depan - Kembali Ke Offline

Saat para retailer konvensional beramai-ramai migrasi ke ranah Online di Indonesia. Di belahan dunia lain, para pelaku e-commerce malah mengisi kelesuan dunia retail konvensional dengan hadir menggunakan formula baru, "Smart Store" atau Toko Pintar.

Read more ...

 

Inilah Trending Bisnis Online 2018

Jika peta persaingan dunia e-commerce global dikerucutkan, maka yang berada pada posisi paling atas akan dihuni oleh Alibaba dan Amazon. Walaupun keduanya bersaing di perang e-commerce global, sebenarnya keduanya memiliki area medan tempur (pasar) yang berbeda, walaupun ada beberapa tempat, dimana mereka harus bertempur berhadap-hadapan.

Read more ...

KNOWLEDGE

 

Mengenal E-Commerce dan Jenisnya di Indonesia

E-commerce adalah electronic commerce, yaitu segala kegiatan komersial (perdagangan meliputi barang dan jasa) yang dilakukan melalui jaringan elektronik atau internet.

Read more ...

 

Mengenal Fintech dan Jenisnya di Indonesia

Fintech adalah sebuah singkatan kata financial dan technology’, yang dapat diartikan sebagai sebuah inovasi di dalam bidang jasa keuangan yang menggunakan teknologi.

Read more ...

 

Mengenal Sharing Economy

Sharing Economy adalah Kegiatan ekonomi yang dilakukan para startup dengan memanfaatkan sumber-sumber menganggur, yang belum terpakai secara ekonomis atau belum terkelola secara maksimal untuk saling bekerjasama.

Read more ...

INPIRASI

 

Ekspansi GO-JEK, Indonesia Menjadi Penguasa Pasar di Asia Tenggara

 

Saat ini Go-Jek tengah mempersiapkan diri untuk keluar kandang memasuki pasar Asia Tenggara. Rencananya Go-Jek akan hadir di Vietnam, Thailand, Singapura dan Filipina. Untuk itu Go-Jek terus berkoordinasi dengan pemerintah negara-negara tersebut untuk memastikan kesiapan operasionalnya.

Read more ...