Influencer marketing

Influencer marketing adalah cara pemasaran melalui para influencer di media sosial seperti Instagram, YouTube, Blog, Twitter dan lain sebagainya. Para influencer tersebut adalah mereka yang memiliki sangat banyak follower atau basis fans di berbagai pilihan media sosial tersebut sehingga tidak harus dari kalangan selebriti yang dikenal melalui media konvensional seperti TV, radio, majalah dan lain-lain.

Istilah influencer marketing memang ditujukan kepada selebriti sosial media. Mereka bisa juga selebriti yang berasal dari kalangan artis, olahragawan, jurnalis dan sebagainya yang telah terkenal di dunia nyata dan bisa pula selebriti yang hanya dikenal di dunia maya. Syaratnya adalah memiliki account sosial media dengan banyak follower.

Sehingga sosok selebriti sangat terkenal di dunia nyata tetapi tidak punya account sosial media atau sekedar punya dengan sedikit follower tidak lah disebut sebagai influencer marketing.

Sebaliknya pembuat konten reguler sosial media dari profesi apapun dengan pengikut yang besar dan aktif mengomentari secara positif (bukan haters) maka mereka dapat disebut influencer marketing, karena mereka dianggap oleh pengiklan, mempunyai pengaruh besar (influens) untuk menggiring pengikutnya mengikuti pesan-pesan yang mereka sampaikan.

Lalu bagaimana dengan para selebriti dunia nyata yang sering tampil dalam iklan-iklan di media konvensional tetapi tidak aktif dalam media sosial? Trendingbisnis akan menjelaskannya dalam penjelasan berikut.


Brand Ambassador vs Influencer Marketing

Brand ambassador adalah istilah yang sering digunakan bagi para selebriti yang dipakai oleh pengiklan sebagai karakter yang mewakili sebuah produk melalui berbagai pilihan media konvensional.

Dalam media konvensional, kehadiran brand ambassador melalui video iklan komersial saat jeda program, print ad, billboard dan sebagainya memiliki jurang pemisah yang lebar antara audiens dengan tokoh brand ambassador, dimana media konvensional memaksa audiens untuk menelan bulat-bulat informasi melalui rekayasa kreatif dimana audiens telah sadar bahwa apa yang mereka lihat hanya settingan.

Misalnya tampilan iklan dimana seleb A dan seleb B berperan sebagai pasangan suami istri, padahal audiens sudah tahu bahwa mereka bukan pasangan. Seleb C mengiklankan produk yang audiens tahu bahwa Seleb C tidak mungkin menggunakannya, dan konsep-konsep lainnya dimana intinya adalah audiens telah tahu bahwa semua itu adalah seni peran demi kebutuhan gambar cantik atau menarik.

Untungnya, dengan tampil di media konvensional, walaupun menyandang gelar brand ambassador tetapi tokoh tersebut tidak punya jembatan yang memungkinkan audiens atau pasar bertanya lebih mendalam mengenai produk yang diwakilinya, kecuali jika pengiklan memang mengkontraknya sekaligus untuk promosi dalam bentuk acara off air.

Pengiklan pun sebenarnya sadar dan tidak berharap terlalu muluk, harapan memakai selebriti terkenal juga hanya agar iklan tersebut dapat mencuri perhatian pemirsa, syukur-syukur jika audiens atau pasar percaya bahwa produk atau jasa mereka benar-benar dipakai oleh brand ambassadornya.

 

Bagaimana dengan Influencer Marketing?

Sebenarnya baik brand ambassador maupun influencer marketing, tidak lepas dari settingan. Bedanya, tokoh yang mewakili produk atau jasa dalam influencer marketing, mendapat tanggung jawab yang lebih. Yang dilihat dan dibayar oleh pengiklan adalah kualitas aktivitas dan kuantiti follower account sosial medianya.

Dalam dunia sosial media, tidak ada jurang pemisah antara audiens atau pasar dengan pemilik account. Begitu meletakkan sesuatu disana maka influencer marketing sudah harus siap menerima komentar yang berisi pujian, pertanyaan hingga hate speech.

Walaupun influencer marketing tidak punya keharusan untuk menjawab tetapi semakin influencer marketing tersebut melakukan interaksi yang positif dengan followernye mengenai brand yang dititipkan padanya, maka akan semakin banyak pengiklan yang mencarinya, karena influencer marketing tersebut telah menjadi "brand ambassador" yang sesungguhnya.

Tidak heran jika bekerja sama dengan orang-orang berpengaruh (influencer) yang memiliki pengikut yang besar di media sosial kini dianggap sebagai salah satu strategi pemasaran terbaik.

Mereka disukai dan dipercaya oleh follower mereka sehingga apa yang mereka pakai, sampaikan atau lakukan, bisa menginspirasi dan mempengaruhi para followernya, termasuk untuk mencoba atau membeli brand yang dianggap memang dipakai oleh influencer marketing tersebut.


Apakah Influencer Marketing memang dipercaya juga menggunakan brand yang diusungnya?

Tentu saja audiens juga mudah melihat mana konten yang dimana Influencer Marketing sedang "berakting" sebagai pengguna brand dan mana yang benar-benar memakai brand tersebut.

Banyak pengiklan yang kurang selektif dalam memilih Influencer Marketing. Influencer Marketing yang bersikap sebagaimana halnya selebriti dunia nyata saat menjadi brand ambassaor, sebenarnya tidak memiliki hubungan emosional yang kuat dengan followernya untuk memberikan influens mengenai brand.

Baik selebriti nyata maupun selebiti maya. Jumlah follower yang banyak cuma sekumpulan orang-orang yang tertarik mengomentari kehidupan pribadi selebriti tersebut.

Sehingga walaupun konten sosial media mereka penuh dengan brand dari pengiklan yang kurang selektif, mereka bukanlah influencer marketing, tetapi adalah seorang model. Jadi jangan tanya apa pun tentang brand tersebut. Tetapi konsep "model" masih cocok untuk produk fashion.

Deddy Corbuzier, selebriti yang sering membuat konten video trending di Youtube ini, melalui channel miliknya, seringkali menyoroti tentang "Influencer Marketing abal-abal", dimana para artis yang diendorse oleh brand sesungguhnya tidak pernah memakai brand tersebut.

Obat pemutih yang memakai artis yang sudah diketahui audien sudah putih sejak lahir, obat langsing yang memakai artis yang tidak pernah gemuk dan sebagainya. Produk harga murah yang memakai artis dengan gaya hidup kalangan jetset dan sebagainya.

Deddy Corbuzier sendiri merupakan contoh Influencer Marketing sesungguhnya. Menurut pengakuannya dia hanya mau mengiklankan produk atau jasa yang benar-benar dia pakai. Hal ini dibuktikan dengan konsistensinya memakai brand-brand yang mengendorsnya dalam berbagai videonya dengan penuh kebanggaan tanpa mengiklankannya.

Benar-benar dipakai, bukan iklan. Setidaknya jika itu pun sebenarnya iklan, dia melakukannya dengan sangat samar. Sehalus-halusnya orang kreatif dalam menyelipkan iklan, mereka tetap harus taat untuk memunculkan logo dan produk secara khusus, menyebutnya berkali-kali dan sebagainya.

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia
 


ECOMMERCE

Langkah Bisnis Pemerintah Malaysia Dengan Alibaba

 

Kehadiran raksasa e-commerce global asal China di kawasan Asia Tenggara tentunya dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama adalah sebagai ancaman dan bisa juga sebagai peluang. Akan dipandang sebagai ancaman karena ketidaksiapan kita untuk bersaing, apalagi yang dihadapi bukanlah main-main, bahkan kehadiran para raksasa tersebut merupakan lawan yang terlalu kuat untuk pemain e-commerce global dari Amerika Serikat dan Negara-negara di Eropa. 

Read more ...

Mengenal Sharing Economy

 

Sharing Economy adalah Kegiatan ekonomi yang dilakukan para startup dengan memanfaatkan sumber-sumber menganggur, yang belum terpakai secara ekonomis atau belum terkelola secara maksimal untuk saling bekerjasama.

Read more ...

Trending Bisnis Pedagang Online

 

Jumlah follower akan menentukan besar-kecilnya target pasar anda. Kreativitas adalah hal yang membuat orang-orang yang menjadi target pasar anda mau menjadi follower anda dan frekuensi aktifitas anda akan membangun trust.

Read more ...

Trend Belanja Online Tahun Depan - Kembali Ke Offline

 

Saat para retailer konvensional beramai-ramai migrasi ke ranah Online di Indonesia. Di belahan dunia lain, para pelaku e-commerce malah mengisi kelesuan dunia retail konvensional dengan hadir menggunakan formula baru, "Smart Store" atau Toko Pintar.

Read more ...

Top 10 Portal Berita

 

Tribunnews pada bulan Juli 2018 masih merupakan portal berita ranking pertama versi alexa. Diposisi selanjutnya adalah Detik dan Liputan6.

Read more ...

PERIKLANAN

Brand Ambassador vs Influencer Marketing

 

Influencer marketing adalah cara pemasaran melalui para influencer di media sosial seperti Instagram, YouTube, Blog, Twitter dan lain sebagainya. Para influencer tersebut adalah mereka yang memiliki sangat banyak follower atau basis fans di berbagai pilihan media sosial tersebut sehingga tidak harus dari kalangan selebriti yang dikenal melalui media konvensional seperti TV, radio, majalah dan lain-lain.

Read more ...

Trend Iklan Dengan Teknnologi Augmented Reality dan Virtual Reality

 

Teknologi AR dan VR kini menjadi medan perang baru bagi bisnis perusahaan-perusahaan besar. Facebook, Google dan Microsoft sudah bertarung memperebutkan iklan pada area ini. Menurut kabar Reuters, Facebook sedang melakukan ujicoba iklan Augmented Reality (AR) di News Feed bersama sejumlah brand terpilih.

Read more ...

MEDIA

Menyusul Koran, TV Segera Tumbang Dihajar Media Online, Benarkah?

 

Benarkah popularitas internet saat ini membuat TV mulai memasuki usia senja? Media TV sedang menjalani proses seleksi alam untuk memilih stasiun TV yang mampu beradaptasi terhadap perubahan. Bukan Media TV nya yang punah tetapi Stasiun TV yang lambat paham yang punah.

Read more ...

Youtube Lebih Dari TV, Yakin?

 

Menurut riset Nielsen, di Tahun 2017, secara gross, pertumbuhan belanja iklan media (televisi, cetak, dan radio) tetap tumbuh, yaitu naik 8% atau senilai Rp 145 triliun. Namun, jika dibanding dengan tahun sebelumnya yang bisa mencapai angka pertumbuhan 20%, angka tadi merupakan penurunan.

Read more ...

Kelebihan dan Kekurangan Sosial Media, Mana yang Tepat Untuk Anda?

 

Saat ini telah banyak pilihan media sosial. Ternyata masing-masing media sosial memiliki keunggulan dan kelemahan. Tidak semua media sosial cocok untuk kebutuhan kita. Mana yang tepat untuk anda?

Read more ...

Bisnis TV Bikin Penasaran Konglomerat

 

Stasiun TV merupakan bisnis yang diminati oleh para pengusaha raksasa, khususnya TV swasta dengan jangkauan siar nasional. Secara bisnis sebenarnya keuntungan dari industri Stasiun TV swasta ini hanya dinikmati oleh segelintir TV yang mampu berada pada peringkat-peringkat teratas dalam perolehan penonton, selebihnya bisnis ini hanya membakar uang untuk menutupi biaya operasionalnya yang tinggi. Pernyataan ini pernah disampaikan oleh Chaerul Tanjung dihadapan para karyawannya usai mengakuisisi TV7. Tak heran jika kepemilikan TV walaupun dipegang oleh para pengusaha raksasa tetapi ternyata tidak banyak yang mampu bertahan untuk terus memilikinya.

Read more ...

Media Cetak Mengangkat Bendera Putih Melawan Media Online

 

Badai Online telah meruntuhkan berbagai bidang bisnis konvensional, bahkan termasuk bidang bisnis media. Yang tampak jelas telah menjadi korbannya adalah media cetak. Saat ini sejumlah nama koran, tabloid hingga majalah telah menghilang dari pasar.

Read more ...

KREATIF

Sabyan Gambus, Fenomena TV Darling VS Trending Topic Darling

 

Internet memang telah menyuburkan pembajakan musik yang menyebabkan kelesuan industri musik. Tetapi sekaligus menjadi kemudahan bagi para pemain baru untuk masuk ke pentas terdepan di industri musik.

Read more ...

FINTECH

Mengenal Fintech dan Jenisnya di Indonesia

 

Fintech adalah sebuah singkatan kata financial dan technology’, yang dapat diartikan sebagai sebuah inovasi di dalam bidang jasa keuangan yang menggunakan teknologi.

Read more ...

Ethis Crowd Fintech Crowd Founding Berbasis Syariah Pertama di Dunia

 

Ethis Crowd merupakan platform crowdfunding properti berbasis syariah pertama di dunia yang menyediakan perumahan dengan harga terjangkau bagi masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah. Saat ini Ethis Crowd beroperasi di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Read more ...

Akhirnya Paytren Mendapat Izin OJK

 

Paytren startup fintech yang didirikan Ustadz Yusuf Masur akhirnya mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Paytren adalah perusahaan penyedia finasial berbasis syariah dan teknologi. Melalui aplikasi Paytren, pengguna aplikasi dapat melakukan berbagai transaksi berbasis internet seperti membayar tagihan, bayar listrik dan beli pulsa dengan mudah.

Read more ...

Bagaimana Nasib Fintech Tak Berizin?

 

Jika bicara teknologi untuk sektor keuangan, sebenarnya lembaga keuangan konvensional juga menggunakan teknologi yang bahkan lebih mumpuni. Jadi, saat bicara tentang Fintech, sebenarnya kita bukan sedang membahas tentang kecanggihan sebuah teknologi. Keunggulan dari Fintech adalah kemudahan masyarakat untuk memperoleh akses jasa keuangan dimana tidak banyak dipagari oleh hal-hal birokratis yang menjadi ciri khas lembaga keuangan konvensional.

Read more ...

INOVASI PRODUK & JASA

Pergiumroh E-commerce Marketplace Untuk Layanan Haji dan Umroh

 

Belakangan ini di Indonesia muncul berbagai berita mengenai penipuan agen perjalanan travel yang sudah merugikan konsumen. Banyak yang tergiur janji berangkat umroh dengan biaya murah namun belum mendapat kepastian keberangkatan. 

Read more ...

Muslim Go Aplikasi Islami Pertama Dengan Sertifikasi Kemenag RI

 

Muslim Go adalah aplikasi mobile menyediakan berbagai macam layanan yang dibutuhkan oleh kalangan Muslim di Indonesia. Muslim Go hadir dengan fitur untuk penunjuk dan pengingat waktu shalat, Al-Qur’an digital, kalender islam, arah kiblat, mencari masjid terdekat serta restoran halal dan sebagainya.

Read more ...

Mengintip 6 Update Keren Google I/O 2018

 

Konferensi developer tahunan Google tahun ini akan menyediakan sesi mendalam untuk membangun situs web, mobile dan aplikasi untuk teknologi web terbuka seperti Android, Google Chrome, Google API, App Engine dan lain sebagainya.

Read more ...

Mengembalikan Gelar Negara Agraris Melalui E-Commerce

 

Masih tepatkah penyebutan negara agraris pada Indonesia saat kita justru lebih sering mengimport kebutuhan agraris untuk masyarakat dari negara agraris ini? Tingginya harga produk agraris domestik bahkan membuat kita tidak mampu bersaing dengan produk agraris pasar global seperti Thailand, Vietnam, Cina, India, Australia, dan sebagainya.

Read more ...

Trend Rumah Canggih Dengan Perintah Suara ala Google Home

 

Memiliki rumah canggih yang memiliki asisten digital seperti milik Tony Stark di film Iron Man kini bukan lagi sekedar khayalan. Google mengeluarkan produk yang membuat berbagai perangkat elektronik rumah kita dapat dikendalikan melalui perintah suara yang dikenal dengan nama Google Home.

Read more ...

LOGISTIK

Siapkah Logistik Indonesia Menghadapi Cainiao, Alibaba?

 

Saking pentingnya logistik, membuat para startup e-commerce mulai banyak yang membangun kebutuhan logistiknya sendiri. Selain ingin juga mencicipi keuntungan dari sektor logistik, para startup e-commerce ingin mengatasi sendiri permasalahan logistik dari pihak ketiga yang sering menghambat kemajuan sektor e-commerce, yaitu masalah biaya dan masalah kecepatan waktu.

Read more ...

UMKM