Dalam perkembangannya, terutama di Indonesia, Para startup E-commerce tidak lagi menjalani bisnis tunggal. Pola ini tampaknya berkaca dari kiblat e-commerce dunia, Alibaba.

Alibaba Group memulai bisnisnya melalui platform marketplace grosir berskala global, Alibaba.com. Terbantu oleh produk-produk China yang semakin diminati oleh pasar global karena memiliki keunggulan dalam menekan harga, Alibaba.com berkembang dengan cepat menjadi e-commerce raksaasa.

Hanya saja permasalahan logistik rupanya menjadi kendala. Masalah ini tentunya lebih dirasakan berat oleh Aliexpress sebagai platform marketplace dari Alibaba Group untuk menjaring pasar retail dengan pemesanan dalam jumlah kecil.

Jika ongkos pengiriman barang keluar China menjadi mahal dan lambat, maka tentunya akan sulit bersaing dengan produk-produk dalam negeri di masing-masing negara yang menjadi target pasar Alibaba Group. Hal ini mendorong Alibaba Group melahirkan Cainiao, unit bisnis yang menjadi andalan untuk mengurus masalah logistik. Logistik pada saat itu dianggap mata rantai e-commerce terlemah di China bahkan untuk urusan logistik dalam negeri.

Tidak cuma merambah urusan logistik, Alibaba Group juga merasa perlu untuk mengurusi masalah lalu lintas uang dalam bisnis mereka, serta mencoba peruntungannya untuk ikut mencicipi bisnis fintech. Untuk kebutuhan ini hadirlah Alipay.

Saat Alibaba mengurus lalulintas keuangannya sendiri melalui Alipay, tentunya baik merchant maupun konsumen pastinya merasa lebih nyaman, lebih cepat dan lebih mudah.

Pola gurita ini lahir dari kebutuhan bisnis. Banyak pelaku bisnis yang terancam tetapi sekaligus banyak konsumen yang terbantu. Sehingga pola ini dapat terlihat sebagai tindakan monopoli tetapi juga sekaligus merupakan inovasi. Semuanya tergantung dari sudut pandang dari tempat kita berdiri.

 


Paket 3 in 1 E-Commerce.

Trend e-commerce saat ini, Sebuah startup akan menjalankan ketiga hal, yaitu Platform marketplace, Financial Services dan Logistik. Walaupun awalnya mereka memulai dari salah satunya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Mohammad Feriadi, Presiden Direktur JNE, kepada trendingbisnis.com, "Pola bisnis e-commerce saat ini berbentuk segitiga, yaitu pemilik platform, payment dan logistik, mereka bisa memulai dari salah satunya dan nantinya akan menjalani ketiganya."

Mohammad Feriadi juga menyampaikan bahwa pemerintah hendaknya memiliki regulasi yang juga berpihak pada pengusaha nasional, sebagaimana yang kita ketahui dengan maraknya dominasi modal asing ditambah kecenderungan pola monopoli tentunya akan membuat pengusaha nasional semakin terjepit.

Persaingan bisnis memang pasti selalu terjadi dimanapun dan kapanpun. Sehingga setiap pelaku bisnis harus lentur terhadap perubahan yang terjadi, malah harus jadi pelopor perubahan sebagaimana langkah Alibaba di kancah dunia.

Tetapi batasan-batasan dari pemerintah yang memiliki kewenangan juga harus ada, yaitu batasan yang adil, dimana baik startup asing, startup nasional dengan investasi modal asing dan startup nasional besar hingga startup nasonal kecil bisa menaiki panggung bersama tanpa ada yang terinjak.


Perkembangan Teknologi Online Menjebol Batas Jalur Lintasan

Perkembangan teknologi online dalam dunia bisnis memang telah mengobrak-abrik banyak pola-pola umum yang telah mapan bertahun-tahun. Kehadiran Go-Jek membuat gamang pemain hingga pembuat kebijakan sektor transportasi untuk menafsirkan DNA bisnis Go-Jek yang sebenarnya.

Bahkan saat belum usai tafsir tentang DNA Go-Jek, Go-jek malah telah wara-wiri mengantar barang yang merupakan area bermain perusahaan logistik (kurir), mengantarkan SDM untuk berbagai kebutuhan hingga menjadi loket pembayaran.

Bukan cuma Go-Jek (melalui G0-Pay) yang membuka loket pembayaran. Antrian ATM kini terlihat semakin pendek dengan hadirnya startup fintech, baik yang mengkhususkan diri seperti Paytren maupun yang menjadikan loket pembayaran sebagai pelengkap mall online, seperti tokopedia, bukalapak dan sebagainya.

OJK pun telah memiliki banyak PR (pekerjaan rumah) tambahan dalam memberikan otoritas kepada sejumlah platform penghimpun dana dan pemberi pinjaman yang bukan lahir dari rahim Bank dan Lembaga Keuangan lainnya.

Dengan jebolnya batas jalur lintasan akibat pesatnya perkembangan teknologi online, pemerintah selaku pemilik kewenangan untuk membuat regulasi dan kebijakan, tentunya harus selangkah didepan untuk membaca kemungkinan-kemungkinan atau setidaknya cepat tanggap terhadap kebutuhan regulasi. Sangat disayangkan jika banyak kegiatan bisnis yang mampu berkembang dengan pesat tetapi masih harus terganjal regulasi.

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia
 


ECOMMERCE

Pertarungan Alibaba VS Amazon Menjadi Raja E-commerce Dunia, Siapa Pemenangnya?

 

Jika peta persaingan dunia e-commerce global dikerucutkan, maka yang berada pada posisi paling atas akan dihuni oleh Alibaba dan Amazon. Walaupun keduanya bersaing di perang e-commerce global, sebenarnya keduanya memiliki area medan tempur (pasar) yang berbeda, walaupun ada beberapa tempat, dimana mereka harus bertempur berhadap-hadapan.

Read more ...

Dari E-commerce Menuju Digital Commerce

 

Menurut studi terbaru ACCENTURE, diprediksi bahwa akan ada pergeseran dari E-commerce menuju Digital Commerce. Yaitu kombinasi dari saluran-omni, pemanfaatan media sosial dan teknologi baru lainnya yang saling terintegrasi

Read more ...

Keputusan Pemerintah Menunjuk Jack Ma Menjadi Advisor E-commerce Indonesia, Tepatkah?

 

Menempatkan pihak yang punya kepentingan untuk menguasai pasar Indonesia menjadi penasehat harus dipertimbangkan secara sangat matang. Apakah mungkin pihak yang ingin menjadi pemain utama di pasar kita mau menjadi penonton dengan merelakan pasar itu kita kuasai sendiri?

Read more ...

Top 10 E-Commerce Indonesia

 

Tokopedia pada bulan Juli 2018 masih merupakan website e-commerce ranking pertama versi alexa. Diposisi selanjutnya adalah Bukalapak dan Kaskus.

Read more ...

Langkah Bisnis Pemerintah Malaysia Dengan Alibaba

 

Kehadiran raksasa e-commerce global asal China di kawasan Asia Tenggara tentunya dapat dilihat dari dua perspektif. Pertama adalah sebagai ancaman dan bisa juga sebagai peluang. Akan dipandang sebagai ancaman karena ketidaksiapan kita untuk bersaing, apalagi yang dihadapi bukanlah main-main, bahkan kehadiran para raksasa tersebut merupakan lawan yang terlalu kuat untuk pemain e-commerce global dari Amerika Serikat dan Negara-negara di Eropa. 

Read more ...

PERIKLANAN

Trend Iklan Dengan Teknnologi Augmented Reality dan Virtual Reality

 

Teknologi AR dan VR kini menjadi medan perang baru bagi bisnis perusahaan-perusahaan besar. Facebook, Google dan Microsoft sudah bertarung memperebutkan iklan pada area ini. Menurut kabar Reuters, Facebook sedang melakukan ujicoba iklan Augmented Reality (AR) di News Feed bersama sejumlah brand terpilih.

Read more ...

Brand Ambassador vs Influencer Marketing

 

Influencer marketing adalah cara pemasaran melalui para influencer di media sosial seperti Instagram, YouTube, Blog, Twitter dan lain sebagainya. Para influencer tersebut adalah mereka yang memiliki sangat banyak follower atau basis fans di berbagai pilihan media sosial tersebut sehingga tidak harus dari kalangan selebriti yang dikenal melalui media konvensional seperti TV, radio, majalah dan lain-lain.

Read more ...

MEDIA

Sesaat Dunia Tanpa Youtube, Youtube Down Today

 

Situs penyelenggara video terbesar di dunia secara mengejutkan tidak dapat diakses pagi ini di berbagai belahan dunia. Untungnya hilangnya Youtube hanya sebentar saja. Setelah berbagai media luar dan dalam negeri memberitakan hilangnya Youtube, tak lama kemudian Youtube kembali hadir. 

Read more ...

Youtube Lebih Dari TV, Yakin?

 

Menurut riset Nielsen, di Tahun 2017, secara gross, pertumbuhan belanja iklan media (televisi, cetak, dan radio) tetap tumbuh, yaitu naik 8% atau senilai Rp 145 triliun. Namun, jika dibanding dengan tahun sebelumnya yang bisa mencapai angka pertumbuhan 20%, angka tadi merupakan penurunan.

Read more ...

Kelebihan dan Kekurangan Sosial Media, Mana yang Tepat Untuk Anda?

 

Saat ini telah banyak pilihan media sosial. Ternyata masing-masing media sosial memiliki keunggulan dan kelemahan. Tidak semua media sosial cocok untuk kebutuhan kita. Mana yang tepat untuk anda?

Read more ...

Bisnis TV Bikin Penasaran Konglomerat

 

Stasiun TV merupakan bisnis yang diminati oleh para pengusaha raksasa, khususnya TV swasta dengan jangkauan siar nasional. Secara bisnis sebenarnya keuntungan dari industri Stasiun TV swasta ini hanya dinikmati oleh segelintir TV yang mampu berada pada peringkat-peringkat teratas dalam perolehan penonton, selebihnya bisnis ini hanya membakar uang untuk menutupi biaya operasionalnya yang tinggi. Pernyataan ini pernah disampaikan oleh Chaerul Tanjung dihadapan para karyawannya usai mengakuisisi TV7. Tak heran jika kepemilikan TV walaupun dipegang oleh para pengusaha raksasa tetapi ternyata tidak banyak yang mampu bertahan untuk terus memilikinya.

Read more ...

Menyusul Koran, TV Segera Tumbang Dihajar Media Online, Benarkah?

 

Benarkah popularitas internet saat ini membuat TV mulai memasuki usia senja? Media TV sedang menjalani proses seleksi alam untuk memilih stasiun TV yang mampu beradaptasi terhadap perubahan. Bukan Media TV nya yang punah tetapi Stasiun TV yang lambat paham yang punah.

Read more ...

KREATIF

Sabyan Gambus, Fenomena TV Darling VS Trending Topic Darling

 

Internet memang telah menyuburkan pembajakan musik yang menyebabkan kelesuan industri musik. Tetapi sekaligus menjadi kemudahan bagi para pemain baru untuk masuk ke pentas terdepan di industri musik.

Read more ...

FINTECH

Mengenal Fintech dan Jenisnya di Indonesia

 

Fintech adalah sebuah singkatan kata financial dan technology’, yang dapat diartikan sebagai sebuah inovasi di dalam bidang jasa keuangan yang menggunakan teknologi.

Read more ...

Ethis Crowd Fintech Crowd Founding Berbasis Syariah Pertama di Dunia

 

Ethis Crowd merupakan platform crowdfunding properti berbasis syariah pertama di dunia yang menyediakan perumahan dengan harga terjangkau bagi masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah. Saat ini Ethis Crowd beroperasi di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Read more ...

Bagaimana Nasib Fintech Tak Berizin?

 

Jika bicara teknologi untuk sektor keuangan, sebenarnya lembaga keuangan konvensional juga menggunakan teknologi yang bahkan lebih mumpuni. Jadi, saat bicara tentang Fintech, sebenarnya kita bukan sedang membahas tentang kecanggihan sebuah teknologi. Keunggulan dari Fintech adalah kemudahan masyarakat untuk memperoleh akses jasa keuangan dimana tidak banyak dipagari oleh hal-hal birokratis yang menjadi ciri khas lembaga keuangan konvensional.

Read more ...

Akhirnya Paytren Mendapat Izin OJK

 

Paytren startup fintech yang didirikan Ustadz Yusuf Masur akhirnya mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Paytren adalah perusahaan penyedia finasial berbasis syariah dan teknologi. Melalui aplikasi Paytren, pengguna aplikasi dapat melakukan berbagai transaksi berbasis internet seperti membayar tagihan, bayar listrik dan beli pulsa dengan mudah.

Read more ...

INOVASI PRODUK & JASA

Setelah Transportasi, Kini Bisnis Penginapan Jadi Rebutan

 

Dalam dunia ecommerce, setiap startup membuat inovasi baru pasti akan selalu berbenturan dengan pemain bisnis yang telah mapan. Ini terjadi memang pasti akan selalu terjadi karena inovasi dari para startup adalah memang merupakan jawaban dari kelemahan atau tuntutan-tuntutan baru yang tidak dapat dipenuhi oleh pemain-pemain yang telah lama menikmati safety zone (zona nyaman). Apalagi jika inovasi dari para startup tersebut memiliki pola bisnis 'Sharing Economy', yang mampu memangkas masalah permodalan dan mendahului regulasi yang belum ada.

Read more ...

GojekTak Sekedar Ojek

 

Saat terjadi demo dan perselisihan antara pemain transportasi konvensional dengan Gojek, secara teori ini menjadi salah alamat, walaupun secara praktek tergerusnya pendapatan pemain transportasi konvensional sangat nyata dirasakan oleh mereka.

Read more ...

Mengintip 6 Update Keren Google I/O 2018

 

Konferensi developer tahunan Google tahun ini akan menyediakan sesi mendalam untuk membangun situs web, mobile dan aplikasi untuk teknologi web terbuka seperti Android, Google Chrome, Google API, App Engine dan lain sebagainya.

Read more ...

Mengembalikan Gelar Negara Agraris Melalui E-Commerce

 

Masih tepatkah penyebutan negara agraris pada Indonesia saat kita justru lebih sering mengimport kebutuhan agraris untuk masyarakat dari negara agraris ini? Tingginya harga produk agraris domestik bahkan membuat kita tidak mampu bersaing dengan produk agraris pasar global seperti Thailand, Vietnam, Cina, India, Australia, dan sebagainya.

Read more ...

Smartphone China Siap Menggusur Samsung dan Apple

 

Brand image produk dari China yang murah yang sering menjadi kendala untuk diterima pasar, karena kekuatiran kualitas produknya juga murahan, perlahan sudah mulai bergeser.

Read more ...

LOGISTIK

Siapkah Logistik Indonesia Menghadapi Cainiao, Alibaba?

 

Saking pentingnya logistik, membuat para startup e-commerce mulai banyak yang membangun kebutuhan logistiknya sendiri. Selain ingin juga mencicipi keuntungan dari sektor logistik, para startup e-commerce ingin mengatasi sendiri permasalahan logistik dari pihak ketiga yang sering menghambat kemajuan sektor e-commerce, yaitu masalah biaya dan masalah kecepatan waktu.

Read more ...

UMKM