Alibaba dan Amazon Adalah Penguasa E-Commerce Dunia

Jika peta persaingan dunia e-commerce global dikerucutkan, maka yang berada pada posisi paling atas akan dihuni oleh Alibaba dan Amazon.

Walaupun keduanya bersaing di perang e-commerce global, sebenarnya keduanya memiliki area medan tempur (pasar) yang berbeda, walaupun ada beberapa tempat, dimana mereka harus bertempur berhadap-hadapan.

Keduanya pun masing-masing memiliki cara pendekatan yang berbeda terhadap pasar. Dimana Alibaba lebih menekankan pada volume penjualan, wilayah operasi dan pengaruh domestik, sementara Amazon lebih menekankan pada pemanfaatan yang efisien dari sumber daya yang mereka miliki.

Maka persaingan mereka saat ini jika diibaratkan sebagai olah-raga, bukanlah seperti pertandingan tinju yang berhadap-hadapan, tetapi lebih mirip pertandingan balap yang masing-masing berada dijalurnya.

Lalu siapa pemenangnya? Trendingbisnis mencatat, jika ini adalah pertandingan balap, maka akan kita akan menemukan ada pemenang berdasarkan kategori tertentu, ada pemenang setiap putaran dan tentunya akan ada pemenang yang mencapai garis finish tercepat pada pertandingan yang akan selalu diselenggarakan ini.

Artinya, keduanya pasti memiliki keunggulan masing-masing. Bisa saja hal yang menjadi fokus utama bagi Alibaba bukanlah hal penting bagi Amazon, begitupula sebaliknya. Tetapi karena pencapaian terpenting dari sebuah bisnis adalah angka keuntungan atau nilai perusahaan, maka poin tersebut boleh dianggap sebagai garis finish yang menentukan siapa pemenangnya, walaupun selama bisnis tetap berjalan maka pemenangnya bisa saja berganti-ganti.

 

Alibaba VS Amazon

 

1. Amazon Memulai Lebih Awal

Amazon pertamakali didirikan oleh Jeff Bezos pada tahun 1995. Sementara Alibaba didirikan oleh Jack Ma dan para pendiri lainnya pada tahun 1999.


2. Alibaba Sejak Awal Telah Memiliki Visi Marketplace Global

Amazon saat pertama kali muncul tampil sebagai toko buku online, kemudian berkembang menjadi e-commerce ritel seperti yang kita ketahui saat ini. Sedangkan Alibaba sudah memiliki visi untuk membuat e-commerce marketplace grosir untuk pasar global sejak awal.


3. Amazon Lebih Cepat Mencapai Go Publik

Amazon hanya butuh 2 tahun untuk Go Publik, yaitu pada tahun 1997. Sementara Alibaba menunggu Go Publik setelah lima tahun berdiri, yaitu pada tahun 2014.


4. Alibaba Sangat Menguasai Pasar di Negara Tempat Asalnnya

Alibaba dan Amazon ada di China dan Amerika Serikat dan jika keduanya dibandingkan, masing-masing dari mereka tentunya lebih dominan di negara asal masing-masing .

Walaupun demikian, ternyata Alibaba lebih menguasai pasar di negara asalnya ketimbang Amazon.

Alibaba menguasai sekitar 11,18% pasar retail di China, sementara Amazon menguasai sekitar 3% pasar retail di Amerika Serikat. (data 2017)


5. Alibaba Memiliki Pengguna dan Pembeli Aktif Yang Lebih Banyak

Alibaba memiliki 493 juta pengguna perbulannya dengan 443 juta pembeli yang aktif, sementara Amazon memiliki 310 juta pengguna dimana 44% dari mereka adalah para pencari produk. (data 2017)


6. Amazon Memiliki Lebih Banyak Brand-Brand Cabang Pengembangan Bisnis Baru

Amazon memiliki Alexa, Amazon Advertising, Amazon Alexa, Amazon Business, Amazon Basics, Amazon Echo, Amazone Fire, Amazon Drive, Amazon Go, Amazon Kindle, Amazon Publishing, Amazon Prime, Amazon Tap, Amazon Turk, Amazon Web Services dan Amazone Video Direct.

Alibaba memiliki 1688, Aliexpress, Alicloud, Alimama, Ant Financial, Cainiao, Juhuasan, Taobao dan TMall 

 


7. Alibaba Lebih Banyak Menjangkau Manca Negara

Alibaba memiliki lebih banyak kantor cabang resmi, pengiriman logistik, serta memiliki lebih banyak merchant dan pembeli yang tersebar di 200 negara, diantaranya : Amerika Serikat, Australia, Belanda, Belgia, China, Denmark, India, Inggris, Italia, Kanada, Jerman, Norwegia, Perancis, Spanyol, Taiwan dan sebagainya.

Amazon memiliki kantor cabang resmi, pusat distribusi, pemngiriman internasional yang tersebar lebih sedikit, yaitu di 100 negara, diantaranya : Amerika Serikat, Australia, Belanda, Brazil, China, Ceko, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Meksiko, Perancis, Polandia, Spanyol dan sebagainya. (data 2017)

Keduanya tidak selalu menjangkau negara-negara yang sama, masing-masing juga memiliki pilihan ekspansi di negara-negara yang dimana mereka tidak bertemu secara langsung. Tetapi Alibaba memiliki jangkauan negara yang lebih banyak.


8. Amazon Memiliki Brand Value Yang Lebih Kuat

Forbes memberikan ranking brand Amazon pada urutan 4, sementara Alibaba berada pad urutan 12. Hal ini diperoleh berdasarkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap brand masing-masing.


9. Amazon Menyerap Tenaga Kerja Yang Lebih Banyak

Amazon mampu menyerap sekitar 341.400 tenaga kerja, angka ini bahkan mengungguli Apple yang memiliki angka 116.000 dan Microsoft yang memiliki angka 114.000, sementara Alibaba mampu menyerap sekitar 50.092 tenaga kerja. (data 2017)

 

10. Pertumbuhan Angka Saham Amazon Lebih Cepat

Angka stok saham Amazon yang dibeli pada tahun 1997 sekarang bernilai 65 kali dari nilai awalnya, Stok Saham Alibaba yang dibeli pada tahun 2014 bernilai 1.9 kali dari nilai awalnya. (data 2017)


11. Amazon Memiliki Nilai Pasar Yang Lebih Tinggi

Amazon mencapai nilai pasar sekitar 427 miliar dolar AS sedangkan Alibaba mencapai nilai pasar sekitar 264,9 miliar dolar AS.

Nilai pasar Amazon berada di depan Alibaba sekitar 163 miliar dolar AS.
(data 2017)

 


12. Amazon Memenangkan Persaingan Menjadi Raja E-commerce Dunia Saat Ini

Amazon terbukti mendominasi penjualan ritel global, bahkan angka pertumbuhannya lebih tinggi daripada hampir semua perusahaan internet besar di dunia.

 

Tentu saja kemenangan ini tidak akan didiamkan begitu saja oleh Alibaba. Masih banyak medan tempur untuk keduanya. Saat ini Alibaba terlihat sangat gesit melebarkan sayapnya di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah investasi dan akuisisi dari Alibaba di Asia Tenggara telah menunjukkan keagresifannya untuk segera menyalib Amazon. 

Tetapi tentu saja Amazon tidak mau membiarkan dominasi Alibaba di Asia Tenggara, untuk mengejar ketertinggalan Amazon di kawasan Asia Tenggara, mereka telah menancapkan jangkar di Singapura pada 27 Juli 2017 lalu. Langkah tersebut dianggap para pengamat sebagai awal dari rentetan ekspansi mereka ke negara-negara lain, termasuk Indonesia. 

Perang masih terus berjalan, Siapa yang akan menjadi Raja E-commerce Dunia pada tahun 2018? 


Sumber data :  artplusmarketing 

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia
 


ECOMMERCE

Langkah Bisnis JD di Indonesia

 

JD sebagai saingan Alibaba Group dalam menguasai pasar e-commerce global, yang sama-sama berasal dari negeri tirai bambu, China, tentunya tidak tinggal diam membiarkan rivalnya menari-nari di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Karena Indonesia pastinya adalah pasar yang sangat bagus dan menjanjikan. 

Read more ...

Ramadhan Membawa Berkah Lonjakan Transaksi Bagi Pelaku E-Commerce

 

Mulai sejak bulan ramadhan hingga menuju lebaran, masyarakat Indonesia akan menjadi lebih konsumtif. Pada awal bulan puasa, Trend belanja yang paling mengalami lonjakan adalah makanan dan minuman. Sementara saat mendekati lebaran, selain makanan dan minuman, belanja kebutuhan fashion lah yang ikut mengalami peningkatan.

Read more ...

Trend Belanja Online Tahun Depan - Kembali Ke Offline

 

Saat para retailer konvensional beramai-ramai migrasi ke ranah Online di Indonesia. Di belahan dunia lain, para pelaku e-commerce malah mengisi kelesuan dunia retail konvensional dengan hadir menggunakan formula baru, "Smart Store" atau Toko Pintar.

Read more ...

Langkah Bisnis Alibaba di Indonesia

 

Alibaba Group telah melakukan sejumlah langkah bisnis di Indonesia. Akankah Alibaba Group akan menjadi pemimpin pasar e-commerce di Indonesia? Kekuatan modal perusahaan raksasa tentunya akan menjadi salah satu hal yang akan menyulitkan para pelaku starup Indonesia 

Read more ...

Inilah Trending Bisnis Online 2018

 

Jika peta persaingan dunia e-commerce global dikerucutkan, maka yang berada pada posisi paling atas akan dihuni oleh Alibaba dan Amazon. Walaupun keduanya bersaing di perang e-commerce global, sebenarnya keduanya memiliki area medan tempur (pasar) yang berbeda, walaupun ada beberapa tempat, dimana mereka harus bertempur berhadap-hadapan.

Read more ...

PERIKLANAN

Trend Iklan Dengan Teknnologi Augmented Reality dan Virtual Reality

 

Teknologi AR dan VR kini menjadi medan perang baru bagi bisnis perusahaan-perusahaan besar. Facebook, Google dan Microsoft sudah bertarung memperebutkan iklan pada area ini. Menurut kabar Reuters, Facebook sedang melakukan ujicoba iklan Augmented Reality (AR) di News Feed bersama sejumlah brand terpilih.

Read more ...

Brand Ambassador vs Influencer Marketing

 

Influencer marketing adalah cara pemasaran melalui para influencer di media sosial seperti Instagram, YouTube, Blog, Twitter dan lain sebagainya. Para influencer tersebut adalah mereka yang memiliki sangat banyak follower atau basis fans di berbagai pilihan media sosial tersebut sehingga tidak harus dari kalangan selebriti yang dikenal melalui media konvensional seperti TV, radio, majalah dan lain-lain.

Read more ...

MEDIA

Media Cetak Mengangkat Bendera Putih Melawan Media Online

 

Badai Online telah meruntuhkan berbagai bidang bisnis konvensional, bahkan termasuk bidang bisnis media. Yang tampak jelas telah menjadi korbannya adalah media cetak. Saat ini sejumlah nama koran, tabloid hingga majalah telah menghilang dari pasar.

Read more ...

Kelebihan dan Kekurangan Sosial Media, Mana yang Tepat Untuk Anda?

 

Saat ini telah banyak pilihan media sosial. Ternyata masing-masing media sosial memiliki keunggulan dan kelemahan. Tidak semua media sosial cocok untuk kebutuhan kita. Mana yang tepat untuk anda?

Read more ...

Youtube Lebih Dari TV, Yakin?

 

Menurut riset Nielsen, di Tahun 2017, secara gross, pertumbuhan belanja iklan media (televisi, cetak, dan radio) tetap tumbuh, yaitu naik 8% atau senilai Rp 145 triliun. Namun, jika dibanding dengan tahun sebelumnya yang bisa mencapai angka pertumbuhan 20%, angka tadi merupakan penurunan.

Read more ...

Bisnis TV Bikin Penasaran Konglomerat

 

Stasiun TV merupakan bisnis yang diminati oleh para pengusaha raksasa, khususnya TV swasta dengan jangkauan siar nasional. Secara bisnis sebenarnya keuntungan dari industri Stasiun TV swasta ini hanya dinikmati oleh segelintir TV yang mampu berada pada peringkat-peringkat teratas dalam perolehan penonton, selebihnya bisnis ini hanya membakar uang untuk menutupi biaya operasionalnya yang tinggi. Pernyataan ini pernah disampaikan oleh Chaerul Tanjung dihadapan para karyawannya usai mengakuisisi TV7. Tak heran jika kepemilikan TV walaupun dipegang oleh para pengusaha raksasa tetapi ternyata tidak banyak yang mampu bertahan untuk terus memilikinya.

Read more ...

KREATIF

Sabyan Gambus, Fenomena TV Darling VS Trending Topic Darling

 

Internet memang telah menyuburkan pembajakan musik yang menyebabkan kelesuan industri musik. Tetapi sekaligus menjadi kemudahan bagi para pemain baru untuk masuk ke pentas terdepan di industri musik.

Read more ...

FINTECH

Mengenal Fintech dan Jenisnya di Indonesia

 

Fintech adalah sebuah singkatan kata financial dan technology’, yang dapat diartikan sebagai sebuah inovasi di dalam bidang jasa keuangan yang menggunakan teknologi.

Read more ...

Bagaimana Nasib Fintech Tak Berizin?

 

Jika bicara teknologi untuk sektor keuangan, sebenarnya lembaga keuangan konvensional juga menggunakan teknologi yang bahkan lebih mumpuni. Jadi, saat bicara tentang Fintech, sebenarnya kita bukan sedang membahas tentang kecanggihan sebuah teknologi. Keunggulan dari Fintech adalah kemudahan masyarakat untuk memperoleh akses jasa keuangan dimana tidak banyak dipagari oleh hal-hal birokratis yang menjadi ciri khas lembaga keuangan konvensional.

Read more ...

Akhirnya Paytren Mendapat Izin OJK

 

Paytren startup fintech yang didirikan Ustadz Yusuf Masur akhirnya mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Paytren adalah perusahaan penyedia finasial berbasis syariah dan teknologi. Melalui aplikasi Paytren, pengguna aplikasi dapat melakukan berbagai transaksi berbasis internet seperti membayar tagihan, bayar listrik dan beli pulsa dengan mudah.

Read more ...

Ethis Crowd Fintech Crowd Founding Berbasis Syariah Pertama di Dunia

 

Ethis Crowd merupakan platform crowdfunding properti berbasis syariah pertama di dunia yang menyediakan perumahan dengan harga terjangkau bagi masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah. Saat ini Ethis Crowd beroperasi di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Read more ...

INOVASI PRODUK & JASA

Google Shopping Untuk Pembanding Harga Produk

 

Walaupun belum terlalu populer di Indonesia, Google sebenarnya mempunyai mesin penulusuran khusus mencari produk yang dijual oleh situs-situs. Posisinya yang agak tersembunyi membuat banyak peselancar internet yang tidak menyadari keberadaannya.

Read more ...

Mengembalikan Gelar Negara Agraris Melalui E-Commerce

 

Masih tepatkah penyebutan negara agraris pada Indonesia saat kita justru lebih sering mengimport kebutuhan agraris untuk masyarakat dari negara agraris ini? Tingginya harga produk agraris domestik bahkan membuat kita tidak mampu bersaing dengan produk agraris pasar global seperti Thailand, Vietnam, Cina, India, Australia, dan sebagainya.

Read more ...

Trend Rumah Canggih Dengan Perintah Suara ala Google Home

 

Memiliki rumah canggih yang memiliki asisten digital seperti milik Tony Stark di film Iron Man kini bukan lagi sekedar khayalan. Google mengeluarkan produk yang membuat berbagai perangkat elektronik rumah kita dapat dikendalikan melalui perintah suara yang dikenal dengan nama Google Home.

Read more ...

Pergiumroh E-commerce Marketplace Untuk Layanan Haji dan Umroh

 

Belakangan ini di Indonesia muncul berbagai berita mengenai penipuan agen perjalanan travel yang sudah merugikan konsumen. Banyak yang tergiur janji berangkat umroh dengan biaya murah namun belum mendapat kepastian keberangkatan. 

Read more ...

Setelah Transportasi, Kini Bisnis Penginapan Jadi Rebutan

 

Dalam dunia ecommerce, setiap startup membuat inovasi baru pasti akan selalu berbenturan dengan pemain bisnis yang telah mapan. Ini terjadi memang pasti akan selalu terjadi karena inovasi dari para startup adalah memang merupakan jawaban dari kelemahan atau tuntutan-tuntutan baru yang tidak dapat dipenuhi oleh pemain-pemain yang telah lama menikmati safety zone (zona nyaman). Apalagi jika inovasi dari para startup tersebut memiliki pola bisnis 'Sharing Economy', yang mampu memangkas masalah permodalan dan mendahului regulasi yang belum ada.

Read more ...

LOGISTIK

Siapkah Logistik Indonesia Menghadapi Cainiao, Alibaba?

 

Saking pentingnya logistik, membuat para startup e-commerce mulai banyak yang membangun kebutuhan logistiknya sendiri. Selain ingin juga mencicipi keuntungan dari sektor logistik, para startup e-commerce ingin mengatasi sendiri permasalahan logistik dari pihak ketiga yang sering menghambat kemajuan sektor e-commerce, yaitu masalah biaya dan masalah kecepatan waktu.

Read more ...

UMKM