Apa itu Sharing Economy?

Sharing Economy jika di terjemahkan berdasarkan kata-katanya adalah ekonomi berbagi. Tetapi kata "berbagi" dalam istilah Sharing economy bukanlah suatu kegiatan sosial. kata "berbagi" dalam istilah ini lebih sering diartikan sebagai saling melengkapi untuk suatu tujuan bisnis. Lalu apa bedanya dengan kegiatan bisnis pada umumnya, yang juga saling melengkapi atau bekerjasama?

Terlepas dari kerancuan istilah sharing economy yang akhirnya banyak memiliki nama lain seperti : shifting, digital collaborative consumption, cooperative economy, peer to peer business dan sebagainya, Trendingbisnis akan memakai istilah sharing economy yang memang lebih umum, agar dapat menjelaskan fenomenanya.

Penjelasan umum Sharing Economy adalah "a disruptive economic form that unleashes new sources of supply" atau suatu bentuk ekonomi yang disruptif dengan melepaskan sumber-sumber suplai baru.

Agar lebih mudah dipahami, Sharing Economy menurut Trendingbisnis adalah Kegiatan ekonomi yang dilakukan para startup dengan memanfaatkan sumber-sumber menganggur, yang belum terpakai secara ekonomis atau belum terkelola secara maksimal untuk saling bekerjasama. Sumber-sumber tersebut bisa berupa barang atau jasa. Sehingga para startup tidak harus membeli atau memiliki sumber-sumber itu sendiri.

Ini merupakan kebalikan dari konsep kapitalis, dimana untuk berbisnis, pengusaha harus memiliki sejumlah modal yang sangat besar untuk membeli atau menyewa sumber-sumber tersebut.

 

Apa yang menyebabkan timbulnya konsep Sharing Economy?

Selama ini bisnis besar hanya dilakukan oleh perusahaan yang dimiliki oleh para pemilik modal besar. Saat perusahaan tersebut telah menjadi besar, maka mereka juga cuma akan tertarik bekerja sama dengan pelaku bisnis lainnya yang juga besar. Setelah mapan, mereka juga biasanya akan berusaha untuk memonopoli bisnis.

Saat itu sudah terjadi, mereka akan bisa mendikte segalanya termasuk konsumennya, sehingga konsumen pun menjadi mulai kehilangan hak tawarnya.

Ada tiga pihak yang menjadi terpinggirkan. Pertama adalah calon pengusaha (startup) dengan modal terbatas. Kedua adalah pengusaha yang berharap bisa menjadi rekanan tapi juga terbentur modal yang terbatas. Ketiga adalah konsumen yang punya daya beli terbatas. Ketiga-tiganya kini kita sebut sebagai underdog.

Rupanya para underdog tersebut bosan menjadi penonton. kondisi tersebut melahirkan apa yang kita sebut dengan Sharing Economy. Para startup tampil membuat panggung sendiri yang akan menjadi panggung para underdog.

Lalu hasilnya panggung underdog itu menjadi lebih ramai karena mengizinkan siapa pun untuk naik keatasnya. Sementara panggung-panggung kapitalis yang sebelumnya merajai pasar sudah mulai kehilangan penonton.

 

 

Berkut ini adalah contoh panggung underdog atau pentas sharing economy tersebut:

 

 1   Panggung para pebisnis antar-mengantar Underdog

Selama ini pengusaha transportasi atau kurir konvensional yang ingin memulai usahanya, maka tentunya ia harus memiliki sejumlah kendaraan. Tetapi dalam konsep sharing economy, pengusaha startup akan bekerjasama dengan para pemilik kendaraan, sebagaimana langkah yang telah di tempuh oleh Go-Jek, Grab dan Uber.

Konsumen yang hak-haknya terpinggirkan, misalnya harus membayar lebih mahal, menunggu terlalu lama dan sebagainya ditawari inovasi transportasi dari para startup yang dapat mengatasi masalah tersebut.

 


 2  Panggung para pedagang Underdog

Sebelum munculnya konsep sharing economy, para pengusaha baru (startup) akan terbentur modal untuk membuat sebuah pasar atau mall sebagai panggung para pedagang. Kemudian muncul lah konsep panggung underdog online (yang kini punya nama keren, e-commerce marketplace), dimana mereka mengizinkan para pedagang underdog untuk berjualan disitu secara gratis, cukup dengan mendaftar, memasukkan foto produk, harga dan spesifikasi produk.

Para konsumen pun tertarik karena mereka bisa dengan mudah membandingkan produk dan harga yang ditawarkan para pedagang. Apalagi cukup duduk ditempat, pilih, bayar dan barang pun akan segera diantar.

  


 3  Panggung para pebisnis jasa penginapan Underdog

Para startup yang ingin bermain di jasa penginapan juga tak harus memiliki hotel. Mereka cukup membuat website dan mencari pemilik rumah kosong yang bagus tetapi tidak dimanfaatkan secara ekonomis untuk bekerjasama.

  


 4   Panggung para pebisnis media underdog

Selama ini Media besar (khususnya TV) juga hanya menyediakan panggung yang hanya boleh dinaiki oleh nama besar dari pekerja seni, pengamat, pembicara hingga ustadz. Sehingga penonton yang menjadi konsumennya juga sangat terbatas mendapat informasi, hiburan, ilmu hingga nasehat karena selain harus menonton sesuai jam tayang, penonton juga sering dibatasi oleh selera pasar dan dipagari dari konten informasi yang wajib sesuai dengan kemauan perspektif sang pemilik modal.

Tetapi kini, Walau panggung ini bukan termasuk yang dimiliki oleh peemilik panggung underdog, tetapi kehadiran Youtube dan media sosial telah memunculkan nama-nama yang tadinya underdog tapi kini telah menjadi nama besar yang akhirnya juga diminati TV.

Anak-anak muda kini sangat mengenali nama-nama yang besar malalui Youtube, seperti Chandraliow, Agunghapsah, Miawaug dan sebagainya sebagaimana seleb di TV.

Kalangan muslim juga sangat mengenal nama Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Khalid Basalamah dan sebagainya melalui Youtube.


Jadi secara sederhana, Sharing economy adalah panggung yang dimiliki, dinaiki dan diminati para underdog. Sharing Economy itu bekerjasama untuk kepentingan ekonomi yang memanfaatkan aset-aset yang menganggur untuk bangun dari tidur, orang-orang punya waktu luang tapi tak punya ruang, orang-orang yang mau berdagang tapi tak punya cukup uang, Orang-orang yang punya kreativitas tapi tak punya pentas, orang-orang berilmu tapi tidak diburu dan sebagainya. 

 

TRENDINGBISNIS
Media Informasi dan Inspirasi Bisnis Online Indonesia
 


ECOMMERCE

Mengenal Sharing Economy

 

Sharing Economy adalah Kegiatan ekonomi yang dilakukan para startup dengan memanfaatkan sumber-sumber menganggur, yang belum terpakai secara ekonomis atau belum terkelola secara maksimal untuk saling bekerjasama.

Read more ...

Langkah Bisnis JD di Indonesia

 

JD sebagai saingan Alibaba Group dalam menguasai pasar e-commerce global, yang sama-sama berasal dari negeri tirai bambu, China, tentunya tidak tinggal diam membiarkan rivalnya menari-nari di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Karena Indonesia pastinya adalah pasar yang sangat bagus dan menjanjikan. 

Read more ...

Trend Belanja Online Tahun Depan - Kembali Ke Offline

 

Saat para retailer konvensional beramai-ramai migrasi ke ranah Online di Indonesia. Di belahan dunia lain, para pelaku e-commerce malah mengisi kelesuan dunia retail konvensional dengan hadir menggunakan formula baru, "Smart Store" atau Toko Pintar.

Read more ...

Trending Bisnis Pedagang Online

 

Jumlah follower akan menentukan besar-kecilnya target pasar anda. Kreativitas adalah hal yang membuat orang-orang yang menjadi target pasar anda mau menjadi follower anda dan frekuensi aktifitas anda akan membangun trust.

Read more ...

Top 10 Instagram Account

 

laudyacynthiabella pada bulan Juni 2018 masih merupakan account instagram ranking pertama versi socialblade. Diposisi selanjutnya adalah princessyahrini dan Lunamaya.

Read more ...

PERIKLANAN

Trend Iklan Dengan Teknnologi Augmented Reality dan Virtual Reality

 

Teknologi AR dan VR kini menjadi medan perang baru bagi bisnis perusahaan-perusahaan besar. Facebook, Google dan Microsoft sudah bertarung memperebutkan iklan pada area ini. Menurut kabar Reuters, Facebook sedang melakukan ujicoba iklan Augmented Reality (AR) di News Feed bersama sejumlah brand terpilih.

Read more ...

Brand Ambassador vs Influencer Marketing

 

Influencer marketing adalah cara pemasaran melalui para influencer di media sosial seperti Instagram, YouTube, Blog, Twitter dan lain sebagainya. Para influencer tersebut adalah mereka yang memiliki sangat banyak follower atau basis fans di berbagai pilihan media sosial tersebut sehingga tidak harus dari kalangan selebriti yang dikenal melalui media konvensional seperti TV, radio, majalah dan lain-lain.

Read more ...

MEDIA

Menyusul Koran, TV Segera Tumbang Dihajar Media Online, Benarkah?

 

Benarkah popularitas internet saat ini membuat TV mulai memasuki usia senja? Media TV sedang menjalani proses seleksi alam untuk memilih stasiun TV yang mampu beradaptasi terhadap perubahan. Bukan Media TV nya yang punah tetapi Stasiun TV yang lambat paham yang punah.

Read more ...

Sesaat Dunia Tanpa Youtube, Youtube Down Today

 

Situs penyelenggara video terbesar di dunia secara mengejutkan tidak dapat diakses pagi ini di berbagai belahan dunia. Untungnya hilangnya Youtube hanya sebentar saja. Setelah berbagai media luar dan dalam negeri memberitakan hilangnya Youtube, tak lama kemudian Youtube kembali hadir. 

Read more ...

Youtube Lebih Dari TV, Yakin?

 

Menurut riset Nielsen, di Tahun 2017, secara gross, pertumbuhan belanja iklan media (televisi, cetak, dan radio) tetap tumbuh, yaitu naik 8% atau senilai Rp 145 triliun. Namun, jika dibanding dengan tahun sebelumnya yang bisa mencapai angka pertumbuhan 20%, angka tadi merupakan penurunan.

Read more ...

Kelebihan dan Kekurangan Sosial Media, Mana yang Tepat Untuk Anda?

 

Saat ini telah banyak pilihan media sosial. Ternyata masing-masing media sosial memiliki keunggulan dan kelemahan. Tidak semua media sosial cocok untuk kebutuhan kita. Mana yang tepat untuk anda?

Read more ...

Media Cetak Mengangkat Bendera Putih Melawan Media Online

 

Badai Online telah meruntuhkan berbagai bidang bisnis konvensional, bahkan termasuk bidang bisnis media. Yang tampak jelas telah menjadi korbannya adalah media cetak. Saat ini sejumlah nama koran, tabloid hingga majalah telah menghilang dari pasar.

Read more ...

KREATIF

Sabyan Gambus, Fenomena TV Darling VS Trending Topic Darling

 

Internet memang telah menyuburkan pembajakan musik yang menyebabkan kelesuan industri musik. Tetapi sekaligus menjadi kemudahan bagi para pemain baru untuk masuk ke pentas terdepan di industri musik.

Read more ...

FINTECH

Bagaimana Nasib Fintech Tak Berizin?

 

Jika bicara teknologi untuk sektor keuangan, sebenarnya lembaga keuangan konvensional juga menggunakan teknologi yang bahkan lebih mumpuni. Jadi, saat bicara tentang Fintech, sebenarnya kita bukan sedang membahas tentang kecanggihan sebuah teknologi. Keunggulan dari Fintech adalah kemudahan masyarakat untuk memperoleh akses jasa keuangan dimana tidak banyak dipagari oleh hal-hal birokratis yang menjadi ciri khas lembaga keuangan konvensional.

Read more ...

Mengenal Fintech dan Jenisnya di Indonesia

 

Fintech adalah sebuah singkatan kata financial dan technology’, yang dapat diartikan sebagai sebuah inovasi di dalam bidang jasa keuangan yang menggunakan teknologi.

Read more ...

Ethis Crowd Fintech Crowd Founding Berbasis Syariah Pertama di Dunia

 

Ethis Crowd merupakan platform crowdfunding properti berbasis syariah pertama di dunia yang menyediakan perumahan dengan harga terjangkau bagi masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah. Saat ini Ethis Crowd beroperasi di Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Read more ...

Akhirnya Paytren Mendapat Izin OJK

 

Paytren startup fintech yang didirikan Ustadz Yusuf Masur akhirnya mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Paytren adalah perusahaan penyedia finasial berbasis syariah dan teknologi. Melalui aplikasi Paytren, pengguna aplikasi dapat melakukan berbagai transaksi berbasis internet seperti membayar tagihan, bayar listrik dan beli pulsa dengan mudah.

Read more ...

INOVASI PRODUK & JASA

Mengembalikan Gelar Negara Agraris Melalui E-Commerce

 

Masih tepatkah penyebutan negara agraris pada Indonesia saat kita justru lebih sering mengimport kebutuhan agraris untuk masyarakat dari negara agraris ini? Tingginya harga produk agraris domestik bahkan membuat kita tidak mampu bersaing dengan produk agraris pasar global seperti Thailand, Vietnam, Cina, India, Australia, dan sebagainya.

Read more ...

GojekTak Sekedar Ojek

 

Saat terjadi demo dan perselisihan antara pemain transportasi konvensional dengan Gojek, secara teori ini menjadi salah alamat, walaupun secara praktek tergerusnya pendapatan pemain transportasi konvensional sangat nyata dirasakan oleh mereka.

Read more ...

Pergiumroh E-commerce Marketplace Untuk Layanan Haji dan Umroh

 

Belakangan ini di Indonesia muncul berbagai berita mengenai penipuan agen perjalanan travel yang sudah merugikan konsumen. Banyak yang tergiur janji berangkat umroh dengan biaya murah namun belum mendapat kepastian keberangkatan. 

Read more ...

Mengintip 6 Update Keren Google I/O 2018

 

Konferensi developer tahunan Google tahun ini akan menyediakan sesi mendalam untuk membangun situs web, mobile dan aplikasi untuk teknologi web terbuka seperti Android, Google Chrome, Google API, App Engine dan lain sebagainya.

Read more ...

Smartphone China Siap Menggusur Samsung dan Apple

 

Brand image produk dari China yang murah yang sering menjadi kendala untuk diterima pasar, karena kekuatiran kualitas produknya juga murahan, perlahan sudah mulai bergeser.

Read more ...

LOGISTIK

Siapkah Logistik Indonesia Menghadapi Cainiao, Alibaba?

 

Saking pentingnya logistik, membuat para startup e-commerce mulai banyak yang membangun kebutuhan logistiknya sendiri. Selain ingin juga mencicipi keuntungan dari sektor logistik, para startup e-commerce ingin mengatasi sendiri permasalahan logistik dari pihak ketiga yang sering menghambat kemajuan sektor e-commerce, yaitu masalah biaya dan masalah kecepatan waktu.

Read more ...

UMKM